MIRIS! Proyek Jalan Nanga Taman-Nanga Mahap Sekadau Kalbar Rp 14,8 Miliar - Kalimantannews.id

MIRIS! Proyek Jalan Nanga Taman-Nanga Mahap Sekadau Kalbar Rp 14,8 Miliar

MIRIS! Proyek Jalan Nanga Taman-Nanga Mahap Sekadau Kalbar Rp 14,8 Miliar
Empat belas koma delapan miliar rupiah. Itulah harga sebuah proyek peningkatan jalan Nanga Taman–Nanga Mahap di pedalaman Kalimantan Barat. Dikerjakan hanya 70 hari kalender, duit mengucur deras 211 juta rupiah per hari.   Fantastis? Tunggu dulu. Ada klausul ganjil: masa pemeliharaan non permanen 180 hari. Proyek belasan miliar, kok ada unsur tak permanen? Sebuah komedi gelap anggaran yang memancing gelak getir.  Papan proyek setia berdiri, menuliskan mantra sakti: “DIBIAYAI DENGAN PAJAK YANG ANDA BAYAR.”   Namun akankah mantra itu jadi kenyataan, atau sekadar stiker moral basi saat aspal mulai retak sebelum genap setahun?   Rakyat Nanga Taman berhak curiga. Ini uang pajak mereka, bukan lembar monopoli. Kalau hujan pertama sudah bikin lubang, artinya rupiah kita dikubur hidup-hidup.
  • Empat belas koma delapan miliar rupiah. Itulah harga sebuah proyek peningkatan jalan Nanga Taman–Nanga Mahap di pedalaman Kalimantan Barat. Dikerjakan hanya 70 hari kalender, duit mengucur deras 211 juta rupiah per hari. 

  • Fantastis? Tunggu dulu. Ada klausul ganjil: masa pemeliharaan non permanen 180 hari. Proyek belasan miliar, kok ada unsur tak permanen? Sebuah komedi gelap anggaran yang memancing gelak getir.

  • Papan proyek setia berdiri, menuliskan mantra sakti: “DIBIAYAI DENGAN PAJAK YANG ANDA BAYAR.” 

  • Namun akankah mantra itu jadi kenyataan, atau sekadar stiker moral basi saat aspal mulai retak sebelum genap setahun? 

  • Rakyat Nanga Taman berhak curiga. Ini uang pajak mereka, bukan lembar monopoli. Kalau hujan pertama sudah bikin lubang, artinya rupiah kita dikubur hidup-hidup. 

Kalimantannews.id, Sekadau - WAJAH lelah seorang buruh sawit di Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat (Kalbar) pagi itu tampak menatap kosong papan proyek besar berdiri kokoh di pinggir jalan. 

Sudah bertahun-tahun ia setor PPh dari upahnya, bayar PPN tiap beli semen, hingga pajak kendaraan motor bututnya. 

Kini, di depan matanya, terpampang jawaban material ke mana uang itu berlabuh: sebuah proyek peningkatan jalan aspal bernilai Rp14.810.999.000.

Empat belas miliar delapan ratus sepuluh juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah. 

Angka presisi penuh koma itu menggantung di papan informasi Dinas PUPR Provinsi Kalimantan Barat Bidang Bina Marga. 

Proyek bertajuk Peningkatan Jalan Nanga Taman–Nanga Mahap ini dikerjakan CV. Megah Jaya Bersama, diawasi konsultan KSO CV. Raffan Design dan PT. 

Perencana Jaya Indonesia. Sumber dananya murni APBD Provinsi Kalbar Tahun Anggaran 2025.

Sejenak, pikiran Amat melayang. Ia membayangkan tiap lembarnya pecahan seratus ribuan disusun vertikal sepanjang 70 hari kalender masa kontrak.  
Hitungan kasarnya brutal: lebih dari 211 juta rupiah lenyap tiap 24 jam. warga di sana bergumam lirih, “Ini jalan aspal biasa atau jalan berlapis emas batangan?”

Hitungan Hari Mencekik


Tak lazimnya masa pengerjaan menjadi sorotan utama liputan satire ini. Tujuh puluh hari kalender untuk merampungkan peningkatan jalan di medan Kalimantan nan ekstrem. 

Kontur tanah bergelombang, curah hujan tinggi, serta rantai pasok material kerap tersendat. 

Pertanyaan menggelitik pun mencuat: apakah tenggat secepat kilat ini mengejar mutu atau justru menyembunyikan kemewahan birokrasi?

Logika aritmetika sosial rakyat berlaku di sini. Rp14,8 miliar ditelan dalam tempo dua bulan sepuluh hari. 

Masuk akalkah teknis pelaksanaannya? Atau ini semata trik jenaka memindahkan uang pajak dari dompet rakyat ke pundi-pundi elite proyek tanpa menyisakan kualitas aspal berarti?

Ironi menggigit kian menyengat saat membaca klausul masa pemeliharaan. Pekerjaan permanen diganjar masa rawat 365 hari, sedangkan non permanen 180 hari. 

Membaca frasa non permanen pada proyek belasan miliar ini serasa menonton komedi gelap anggaran negara. 

Bukankah seluruh komponen idealnya berkelas permanen? Logika waras mendikte, jalan senilai rumah sakit mini ini mesti tahan banting minimal satu dekade, bukan mulai retak sebelum satu tahun pemeliharaan usai.

Papan Bisu Bersaksi


Di bagian bawah papan proyek, tertera kalimat bermakna magis: “PEKERJAAN INI DIBIAYAI DENGAN PAJAK YANG ANDA BAYAR.” 

Kalimat huruf kapital tebal itu bak mantra yang menyentak nurani. Sayangnya, bagi banyak warga, ia sekadar hiasan estetika. 

Padahal, susunan kata itu merupakan kontrak moral paling sakral antara pemerintah dan rakyat pembayar pajak.

Papan proyek itu kini menjadi saksi bisu pertaruhan rupiah. Ia berdiri gagah di tengah belantara, menyaksikan aliran dana menuju rekening kontraktor, konsultan, dan mungkin oknum-oknum lapar tak kasat mata. 

Warga Nanga Taman hanya bisa menerka-nerka: akankah aspal ini mulus abadi atau bakal berubah jadi kubangan lumpur pasca musim hujan pertama?

Publik Kalbar patut mencatat detail kontrak ini dengan tinta merah kewaspadaan. Nama paket, nilai fantastis, serta para pelaksana sudah terbuka terang benderang. 

Kini, bola pantau ada di tangan rakyat. Media sosial bisa menjadi senjata ampuh mengawal tiap meter pengaspalan. 

Gunakan tagar #PantauJalanNangaMahap, unggah foto progres harian, dan bandingkan dengan patokan mutu dasar infrastruktur.

Pajak yang Anda bayar susah payah, jangan cuma berakhir sebagai angka papan proyek lapuk termakan usia. 

Jika dalam 365 hari pemeliharaan jalan ini retak, berlubang, dan ambruk, maka negara telah mengkhianati tiap tetes keringat pekerja serta logika sehat pengelolaan keuangan publik. 

Di saat itulah, papan proyek itu bukan lagi saksi bisu, melainkan batu nisan bagi matinya akal sehat dan amanah.

Formulir Kontak