Kalimantannews.id
Berbagi Cahaya dari Kota Khatulistiwa: ACC Menyalakan Lentera Masa Depan Finansial Generasi Muda

Berbagi Cahaya dari Kota Khatulistiwa: ACC Menyalakan Lentera Masa Depan Finansial Generasi Muda

Berbagi Cahaya dari Kota Khatulistiwa: ACC Menyalakan Lentera Masa Depan Finansial Generasi Muda
  • Astra Credit Companies (ACC) menegaskan komitmen membangun generasi muda cerdas finansial melalui program CSR Educlass di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Pontianak Kalimantan Barat. 

  • Inisiatif ini menjadi jembatan nyata antara dunia akademik dan industri jasa keuangan. Chief Executive Officer ACC, Hendry Christian Wong, memimpin langsung kegiatan ini bersama jajaran pimpinan lainnya, menandakan keseriusan perusahaan mendukung program literasi finansial Otoritas Jasa Keuangan.

  • Sebanyak 165 mahasiswa Jurusan Manajemen menerima pembekalan komprehensif. Materi tidak hanya menyentuh aspek pengelolaan keuangan bijak guna menghindari risiko keputusan finansial keliru, namun juga meliputi sesi Career Preparation dan Campus Hiring. 

  • Mahasiswa dilatih membuat CV bertaji, menguasai teknik wawancara, serta membangun personal branding kuat. ACC membuka pintu rekrutmen langsung, menawarkan kesempatan emas berkarier di industri pembiayaan.

Kalimantannews.id, Pontianak - Di bawah langit Kota Pontianak Kalimantan Barat yang teduh, sebuah ikhtiar mulia menyalakan lentera harapan bagi para pemimpin masa depan. 

Astra Credit Companies (ACC) tidak sekadar hadir, melainkan merajut benang mimpi dan realitas dalam balutan edukasi yang memberdayakan. 

Bertempat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, ACC menggelar Educlass Literasi Keuangan, Career Preparation & Campus Hiring.  

Sebuah simfoni pengetahuan yang mengalun syahdu, menyentuh 165 mahasiswa Jurusan Manajemen, mempersiapkan mereka menapaki gerbang masa depan dengan langkah pasti dan pikiran cemerlang.

Kehadiran Chief Executive Officer ACC, Hendry Christian Wong, bersama jajaran pimpinan lainnya, menjadi penanda betapa seriusnya komitmen ini. 

Dekan FEB UNTAN, Dr. Barkah, menyambut hangat inisiatif yang menjadi jembatan emas antara dunia akademik dan industri. 

Di sinilah, di ruang-ruang penuh semangat itu, benih-benih kecerdasan finansial disemai dengan sentuhan humanis.

Merawat Akal, Menjaga Asa Finansial

Materi literasi keuangan yang dibawakan Corporate Strategic Management Head ACC, Ashry Rizka Imani, bukanlah sekadar teori kaku di atas kertas. 

Ini adalah bekal hidup. Sebuah navigasi cerdas agar generasi muda tidak tersesat dalam pusaran pengambilan keputusan finansial yang keliru. 
Pengetahuan ini ibarat vaksin yang membentengi masa depan mereka dari risiko kerentanan ekonomi. 

Di tengah godaan konsumerisme, mahasiswa diajak kembali ke akar kebijaksanaan membedakan kebutuhan dari keinginan, merancang anggaran dengan disiplin, serta memahami risiko sejak dini.

Hendry Christian Wong menuturkan dengan penuh keyakinan, “Kami percaya edukasi keuangan perlu diperkenalkan sejak dini agar generasi muda memiliki pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan, perencanaan masa depan, serta pentingnya perlindungan terhadap risiko.” 

Kalimat ini bukan sekadar pernyataan, melainkan sebuah peta jalan. Lebih lanjut ia menegaskan misi selaras regulasi, “Sejalan dengan program OJK, ACC berharap dapat turut mendorong terciptanya generasi yang cerdas finansial.”

Menempa Diri, Menjemput Peluang Emas

Setelah membekali pikiran dengan literasi keuangan, agenda beranjak ke ranah yang tak kalah krusial persiapan karier. 

Sesi ini bukan hanya soal membuat CV yang menarik atau teknik lolos wawancara. Ia adalah proses menempa kepercayaan diri, mengasah personal branding, dan membuka wawasan tentang peta persaingan dunia profesional.  

Mahasiswa dibimbing menyelami potensi terdalam mereka, mengartikulasikan nilai diri, dan membangun kesan pertama yang memikat di mata perekrut. 

Ini adalah seni membangun jembatan antara kompetensi dan kesempatan. Puncak dari rangkaian ini adalah Campus Hiring, sebuah kesempatan emas bagi para alumni untuk bergabung langsung bersama ACC. 

Langkah ini membuktikan bahwa ACC tidak hanya mengedukasi, tetapi juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi talenta terbaik negeri untuk berkarier di industri jasa keuangan.

Mahasiswa menyaksikan sebuah simfoni yang lengkap dan menyentuh. Dari memberi ilmu, melatih keterampilan, hingga menyediakan wadah aktualisasi diri. 

ACC memposisikan diri bukan hanya sebagai korporasi pembiayaan, melainkan sebagai sahabat perjalanan yang dengan setia menuntun generasi muda mewujudkan impian.

Tentang makna kolaborasi ini, sebuah kutipan dari pihak fakultas menggarisbawahi urgensi sinergi. 

Sinergi antara dunia kampus dan industri adalah mutlak. Dunia yang berubah cepat menuntut mahasiswa tidak hanya berbekal transkrip nilai, tetapi juga akses pada wawasan praktis tentang bagaimana mengelola hidup dan meraih pekerjaan. 

Kehadiran ACC adalah oase di tengah dahaga mahasiswa akan kepastian masa depan.

Mentari di Pontianak mungkin telah bergeser, namun cahaya pengetahuan yang dinyalakan ACC akan terus berpijar. 

Ia akan menjadi obor yang menemani langkah para mahasiswa, menerangi jalan terjal menuju kemandirian finansial, dan menghangatkan mimpi-mimpi besar mereka di masa depan. 

Sebuah bukti nyata bahwa berbagi pengetahuan adalah investasi paling mulia yang tidak akan pernah lekang oleh inflasi.
Jejak Tulus di Jalan Berdebu

Jejak Tulus di Jalan Berdebu

Jejak Tulus di Jalan Berdebu
  • Di tengah fase pencarian jati diri anak muda Indonesia, sekelompok remaja lulusan SMA/SMK memilih jalan berbeda. 

  • Mereka menjadi Account Officer (AO) PNM, mendampingi ibu-ibu prasejahtera mengelola usaha ultra mikro di pelosok negeri. 

  • Tugas ini menuntut mereka melintasi medan berat: jalan rusak, jarak puluhan kilometer, dan terik matahari yang membakar.

  • Pendampingan mereka melampaui urusan modal. Para AO menjadi pendengar setia, menyerap kisah jatuh bangun para ibu yang berjuang menghidupi keluarga dari usaha sederhana. 

  • Di titik inilah relasi profesional berubah menjadi ikatan personal banyak nasabah menganggap AO sebagai anak sendiri. Kehangatan ini memberi kekuatan bagi kedua belah pihak untuk terus bertahan.

  • Intinya, di tangan anak-anak muda ini, harapan keluarga prasejahtera terus dijaga melalui kehadiran yang tulus, bukan sekadar prosedur.

Kalimantannews.id, Pontianak - Langit Kota Pontianak Kalimantan Barat siang itu menggantungkan terik tanpa ampun. 

Seorang perempuan belia baru saja menuntaskan perjalanan puluhan kilometer melintasi jalan tanah berlumpur. 

Usianya belum genap 20 tahun, namun langkahnya penuh kehati-hatian serupa orang dewasa yang memikul tanggung jawab besar. 

Dialah salah satu Account Officer (AO) PNM, anak muda yang memilih jalan sunyi sebagai penjaga harapan keluarga prasejahtera.

Di saat sebagian besar remaja seusianya sibuk mengeksplorasi identitas diri, para AO muda ini justru menjadi tiang penyangga bagi ibu-ibu pengusaha ultra mikro. 

Mereka adalah lulusan SMA/SMK yang rela menembus batas geografis dan kelelahan fisik demi satu keyakinan sederhana bahwa usaha kecil berhak untuk bermimpi besar.

Medan tugas mereka bukanlah ruangan berpenyejuk udara. Keseharian para pendamping ini diisi oleh terik matahari yang membakar kulit, hujan yang mengubah jalur pedesaan menjadi kubangan licin, serta dinamika manusia yang kompleks. 

Mereka bertemu dengan para ibu yang sering kali harus memilih antara menghadiri pertemuan kelompok atau menyambung dapur hari itu. 

“Menjadi AO bukan pekerjaan mudah. Ada hari-hari ketika lelah datang lebih dulu daripada waktu istirahat,” tulis manajemen PNM dalam keterangan resminya, Senin (18/5/2026).

Telinga yang Mendengar Lantang

Jejak Tulus di Jalan Berdebu
Peran mereka melampaui sekadar urusan administrasi dan pencairan modal. Dalam lingkaran pertemuan kelompok yang penuh cerita, seorang AO muda bertransformasi menjadi pendengar ulung. 

Mereka mendekap kisah para ibu yang usahanya belum bergerak optimal, mendengar keresahan tentang masalah keluarga yang mengganggu fokus mengelola warung, serta menjadi saksi bisu atas perjuangan para perempuan tangguh yang menolak menyerah pada kemiskinan.

Di sinilah pendampingan menemukan makna autentiknya. Pemberdayaan bukan cuma perihal angka dan modal bergulir, melainkan tentang kehadiran manusia yang bersedia berjalan beriringan dalam senyap. 

Para AO ini juga belajar bahwa mendengar sering kali lebih menyembuhkan daripada memberi solusi instan. 

Mereka memastikan bahwa setiap ibu memahami bahwa usahanya dilihat, suaranya didengar, dan langkah kecilnya dihargai.

Ikatan yang terbangun pun berkembang melampaui relasi formal. Banyak nasabah yang menganggap para pendamping muda ini sebagai anaknya sendiri. 

Pertemuan rutin yang semula bersifat prosedural berubah menjadi ruang saling menguatkan. Kehangatan itu menjadi energi baru bagi para ibu untuk terus bangkit, serta menjadi penawar lelah bagi para AO yang berjuang di garda terdepan.

Di balik kemudaan usia, para AO ini mengajarkan satu hal esensial: menjaga harapan adalah kerja nyata. 

Mereka hadir untuk memastikan bahwa usaha kecil para ibu tetap bernapas, bahwa anak-anak di pelosok negeri masih bisa bersekolah dari hasil keringat dagangan ibunya, dan bahwa roda ekonomi keluarga paling akar rumput terus berputar meski perlahan.

Perjalanan panjang dan jalan rusak tak lagi menjadi hambatan ketika tujuan akhirnya adalah melihat senyum bangkit dari seorang ibu yang usahanya mulai menunjukkan perkembangan. 

Para pendamping muda ini membuktikan bahwa dampak besar tidak selalu lahir dari kebijakan tinggi, melainkan juga dari sepatu boot yang menapaki lumpur desa demi desa.

Dari Pontianak hingga pelosok negeri lainnya, kisah ini terus bergulir. Anak-anak muda itu memilih menguatkan, memilih membersamai jatuh bangun pengusaha wong cilik, dan memilih jalan sunyi yang penuh makna. 

Mereka adalah bukti bahwa dedikasi tidak mengenal batas usia, dan harapan selalu menemukan jalannya selama masih ada manusia yang bersedia menjaga.

Kisah sunyi ini membuktikan bahwa di balik setiap usaha kecil yang bertahan, selalu ada anak muda yang memilih berjalan dalam lelah dan debu. 

Bagikan cerita inspiratif ini agar lebih banyak pihak tergerak mendukung langkah para penjaga harapan di pelosok negeri.
Jejak Dua Dekade Jaguar Tanjungpura Rajut Asa Kebersamaan

Jejak Dua Dekade Jaguar Tanjungpura Rajut Asa Kebersamaan

Jejak Dua Dekade Jaguar Tanjungpura Rajut Asa Kebersamaan
  • Perayaan 20 tahun Jaguar Tanjungpura menghadirkan kehangatan, namun sekaligus membuka ruang refleksi kritis. 

  • Ini soal kekompakan dan persaudaraan terdengar kuat, tetapi tantangan nyata ada pada konsistensi menjaga relasi di tengah perubahan zaman. 

  • Kehadiran keluarga memberi kekuatan sosial. Jaguar Tanjungpura memberi contoh, tapi sekaligus mengingatkan bertahan itu pilihan sadar, bukan kebetulan.

  • Jaguar Tanjungpura mencoba melawan pola itu dengan menekankan nilai persaudaraan lintas generasi. 

  • Ini menjadi pengingat bahwa kekuatan itu tidak diukur dari usia, melainkan konsistensi menjaga ikatan sosial secara nyata di kehidupan sehari-hari.

Kalimantannews.id, Pontianak - Malam merambat pelan di langit Kota Pontianak Kalimantan Barat. Jarum jam menunjuk pukul 19.38 waktu setempat. 

Cahaya lampu restoran memantul di wajah-wajah hangat penuh cerita. Suasana terasa akrab, penuh tegur sapa, seolah waktu sengaja berhenti demi memberi ruang bagi kenangan bertumbuh.

Acara peringatan dua dekade pengabdian Jaguar Tanjungpura berlangsung di TeraSky Restaurant, Transera Hotel Pontianak. 

Spanduk terbentang sederhana namun sarat makna: Anniversary 20 Tahun Pengabdian, Solid, Kompak, Persaudaraan, Jaguar Tanjungpura. 

Kalimat itu bukan sekadar hiasan, melainkan penanda perjalanan panjang penuh dedikasi. Pembawa acara membuka malam dengan nada hangat, “Terima kasih bapak ibu telah hadir malam ini. Terima kasih sudah mendampingi bapak-bapaknya bertugas.” 

Kalimat singkat, namun menyiratkan peran keluarga sebagai fondasi utama perjalanan Jaguar Tanjungpura.

Di tengah ruangan, seorang pria melangkah mantap ke depan. Tubuh tegap, kumis tebal, senyum mengembang. 

Ia Iwan, Ketua Panitia. Sosok itu berdiri bukan sekadar mewakili diri, melainkan mewakili perjalanan kolektif selama dua puluh tahun.

Komitmen Kebersamaan

Jejak Dua Dekade Jaguar Tanjungpura Rajut Asa Kebersamaan
Dalam kata sambutannya, Iwan menegaskan makna kebersamaan sebagai inti perjalanan Jaguar Tanjungpura.

“Dan kita tingkatkan kesolidan kita, kekompakan kita, persaudaraan kita, ya minimal silaturahmi kita antar keluarga Jaguar harus kita pererat,” ucapnya. Nada suara tenang, namun pasti.

Ucapan itu bukan formalitas seremonial. Ia lahir dari pengalaman panjang menghadapi dinamika waktu. 

Dalam perjalanannya, tantangan bukan hanya berasal dari luar, melainkan dari perubahan pola hidup, kesibukan personal, hingga jarak antar anggota.

Tak hanya itu, Iwan juga menambahkan, “Semoga ke depannya dapat berkumpul lagi untuk tahun-tahun berikutnya.” 

Harapan sederhana, namun memiliki bobot emosional tinggi. Dalam era mobilitas tinggi, pertemuan fisik menjadi kemewahan tersendiri.

Momen dua dekade menjadi titik refleksi. “Di usia ke-20 tahun ini, mari kita jadikan momentum perkuat komitmen serta melanjutkan semangat lebih besar lagi,” ujar Iwan. 

Kalimat itu juga menegaskan arah gerak ini tidak hanya berhenti pada nostalgia, melainkan bergerak maju.

Adaptasi Nilai Zaman

Jejak Dua Dekade Jaguar Tanjungpura Rajut Asa Kebersamaan
Perjalanan panjang tidak pernah lepas dari perubahan zaman. Teknologi berkembang, pola komunikasi berubah, ritme kehidupan semakin cepat. Dalam konteks ini, maka, dituntut adaptif tanpa kehilangan identitas.

Iwan menegaskan prinsip tersebut dalam pernyataan penting, “Kita harus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur.” 

Pernyataan ini mencerminkan kesadaran kolektif bahwa modernitas tidak boleh menghapus akar budaya serta nilai persaudaraan.

Pendekatan adaptif menjadi kunci keberlanjutan. Kegiatan ini tidak lagi sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang kolaborasi lintas generasi. 

Anggota lama membawa pengalaman, anggota muda menghadirkan energi baru. Sinergi ini menciptakan keseimbangan.
Jejak Dua Dekade Jaguar Tanjungpura Rajut Asa Kebersamaan
Di sudut ruangan, terlihat keluarga-keluarga saling berbincang. Anak-anak berlarian kecil, orang tua tersenyum mengamati. 

Kehadiran keluarga memperkuat struktur sosial komunitas. Ikatan tidak hanya terbentuk antar individu, melainkan antar generasi.

Secara sosiologis, fenomena ini menunjukkan bahwa berbasis kekeluargaan memiliki daya tahan lebih kuat dibanding struktur formal semata. Ikatan emosional menciptakan loyalitas jangka panjang.

Malam terus berjalan. Bulan bersinar di langit bumi Khatulistiwa itu seolah menjadi saksi bisu pertemuan penuh makna. 

Suasana hangat terasa alami, tanpa dibuat-buat. Percakapan mengalir, tawa pecah sesekali, kenangan lama kembali hidup.
Jejak Dua Dekade Jaguar Tanjungpura Rajut Asa Kebersamaan
Perayaan ini bukan sekadar acara tahunan. Ia menjadi ruang refleksi, ruang rekoneksi, sekaligus ruang proyeksi masa depan. Dua dekade telah terlewati, namun perjalanan belum selesai.

Kisah ini mencerminkan pentingnya kebersamaan sebagai pilar sosial. Di tengah arus individualisme modern, ruang kebersamaan seperti ini menjadi penyeimbang.

Momentum ini memberi pesan jelas keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh struktur organisasi, melainkan oleh komitmen emosional antar anggota. 

Tanpa itu, maka mudah tergerus waktu. Kini, Jaguar Tanjungpura memasuki fase baru. Tantangan semakin kompleks, namun peluang terbuka lebar. 

Dengan fondasi persaudaraan kuat, adaptasi cerdas, serta komitmen berkelanjutan ini memiliki modal sosial cukup untuk terus berkembang.

Ikuti terus kisah inspiratif lain, pengalaman kebersamaan antar sesama, serta dukung ruang persaudaraan lokal agar tetap hidup lintas generasi.

 TOLONG! Aksi Pencurian di Jalan Reformasi Pontianak Meresahkan Warga

TOLONG! Aksi Pencurian di Jalan Reformasi Pontianak Meresahkan Warga

TOLONG! Aksi Pencurian di Jalan Reformasi Pontianak Meresahkan Warga
  • Aksi pencurian buah di Pontianak Kota picu keresahan warga. Modus tanpa pelat nomor sulit dilacak.

  • Aksi pencurian buah terjadi di kawasan Jalan Reformasi Gang Teknik Untan, Pontianak, memicu keresahan warga. 

  • Pelaku berkeliling menggunakan kendaraan tanpa pelat nomor sehingga sulit dikenali dan dilaporkan. Tidak hanya buah seperti pisang dan matoa, sejumlah barang lain seperti meteran air dan sepeda ikut hilang. 

  • Warga menilai kejadian berlangsung berulang dan cenderung meningkat. Kondisi ini berdampak pada menurunnya rasa aman di lingkungan permukiman. 

  • Warga berharap aparat kepolisian segera mengambil langkah pencegahan melalui patroli rutin dan pengawasan lebih ketat guna menekan potensi kriminalitas. 

Kalimantannews.id, Pontianak - Di sudut permukiman padat Kota Pontianak Kalimantan Barat, malam terasa lebih panjang dari biasanya. 

Jalan Reformasi Gang Teknik Untan menjadi saksi bisu atas keresahan warga. Buah pisang, matoa, hingga hasil kebun lain lenyap tanpa jejak pasti. 

Pelaku hadir tanpa suara, pergi tanpa bekas jelas. Seorang warga menuturkan dengan nada lirih, “Pelaku keliling pakai motor tanpa pelat, susah dikenali.” 

Kalimat sederhana itu menggambarkan ketakberdayaan kolektif. Ketika identitas tak terdeteksi, rasa aman ikut menghilang.

Pergerakan pelaku tergolong rapi. Kendaraan tanpa tanda nomor polisi memberi ruang bebas dari identifikasi cepat. 

Pola ini menunjukkan kesadaran tinggi terhadap celah pengawasan lingkungan. Pelaku memanfaatkan kondisi permukiman padat dengan akses jalan kecil serta minim pencahayaan.

Buah-buahan menjadi sasaran awal. Namun dinamika berkembang. Warga mulai kehilangan barang lain seperti meteran air, sepeda, hingga peralatan rumah tangga. 

Fenomena ini menandakan eskalasi tindak kriminal skala kecil menuju potensi lebih besar. Dalam perspektif kriminologi sederhana, tindakan ini masuk kategori opportunistic crime. 

Pelaku membaca situasi, lalu bertindak saat peluang terbuka lebar. Tidak perlu alat canggih, cukup keberanian serta pemahaman medan.

Rasa Aman Hilang

Rasa aman menjadi fondasi utama kehidupan sosial. Ketika fondasi ini terganggu, muncul efek berantai. 

Warga mulai waspada berlebihan, interaksi sosial menurun, kepercayaan antar tetangga merenggang. Seorang ibu rumah tangga menyampaikan keresahan, “Bukan cuma buah, barang lain ikut hilang.” 

Pernyataan ini juga mempertegas dampak psikologis. Kehilangan kecil terasa besar saat terjadi berulang.

Lingkungan permukiman seharusnya menjadi ruang nyaman. Namun kondisi saat ini justru menciptakan tekanan batin. 

Setiap suara kendaraan malam hari memicu kecurigaan. Setiap gerak asing terasa ancaman.

Desakan Cepat Aparat 

Harapan warga tertuju pada aparat penegak hukum. Langkah preventif dinilai lebih penting daripada penindakan semata. 

Patroli rutin, pemasangan kamera pengawas, hingga edukasi keamanan lingkungan menjadi opsi strategis.

Pendekatan kolaboratif antara warga dan aparat menjadi kunci. Sistem ronda malam dapat dihidupkan kembali dengan pola adaptif. 

Teknologi sederhana seperti grup komunikasi digital mampu mempercepat informasi saat kejadian mencurigakan muncul.

Secara analitis, kasus ini mencerminkan lemahnya sistem pengawasan mikro. Tanpa intervensi cepat, potensi peningkatan kriminalitas terbuka lebar. 

Pelaku dapat merasa aman, lalu mengulangi aksi dengan skala lebih luas. Kota berkembang membutuhkan sistem keamanan adaptif. 

Bukan hanya reaktif setelah kejadian, melainkan proaktif sebelum kerugian terjadi. Kesadaran kolektif menjadi benteng awal, sementara aparat berperan sebagai penguat struktur.

Pada akhirnya, kasus pencurian buah bukan sekadar soal hasil kebun hilang. Ini tentang rasa aman, kepercayaan sosial.

Serta ketahanan lingkungan menghadapi ancaman kecil namun berulang. Dari Jalan Reformasi Gang Teknik Untan Kota Pontianak Kalimantan Barat, pesan itu menggema pelan namun jelas.

Hari Bumi Kalbar: Rimpang Borneo Pulihkan Nadi Hijau

Hari Bumi Kalbar: Rimpang Borneo Pulihkan Nadi Hijau

Hari Bumi 2026 di Kalimantan Barat memantik seruan pulihkan hutan, hentikan eksploitasi, lindungi masyarakat adat, serta dorong aksi nyata cegah karhutla dan krisis iklim berkelanjutan
  • Hari Bumi 2026 di Kalimantan Barat memantik seruan pulihkan hutan, hentikan eksploitasi, lindungi masyarakat adat, serta dorong aksi nyata cegah karhutla dan krisis iklim berkelanjutan.

  • Hari Bumi 2026 di Kalimantan Barat menegaskan krisis lingkungan makin serius. Koalisi Rimpang Borneo menyerukan “Pulihkan Nadi Hijau Kita” sebagai respon atas deforestasi, karhutla, banjir, serta konflik ruang hidup masyarakat adat.

  • Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change memperkuat bahwa kenaikan suhu bumi memperparah bencana. Ancaman kebakaran hutan, Extinction Rebellion mendesak perubahan kebijakan lingkungan.

  • Kebakaran hutan, banjir, abrasi pesisir, hingga deforestasi terus berulang akibat tata kelola sumber daya alam belum berkelanjutan.

Kalimantannews.id, Pontianak - Langit Kota Pontianak Kalimantan Barat terasa berat pada 22 April 2026. Bukan sekadar awan, melainkan akumulasi kegelisahan panjang atas bumi kian renta. Hari Bumi hadir bukan lagi seremoni, melainkan penanda bahwa relasi manusia dengan alam berada pada titik genting.

Di tengah suasana itu, Koalisi Rimpang Borneo berdiri. Suara kolektif dari Mapala, komunitas sipil, mahasiswa, hingga jaringan akar rumput menggema dalam satu pesan sederhana, namun sarat makna: “Pulihkan Nadi Hijau Kita.”

Seruan itu bukan slogan kosong. Ia lahir dari pengalaman panjang melihat hutan menyusut, gambut terbakar, sungai keruh, serta ruang hidup masyarakat adat terdesak pelan namun pasti.

Kalimantan Barat kini memanggul beban ekologis berlapis. Deforestasi meluas, kebakaran hutan berulang, banjir datang tanpa jeda, abrasi menggerus pesisir. Semua bukan sekadar peristiwa alam. Ia bagian dari pola pembangunan eksploitatif.

Narasi lama tentang “bencana alam” mulai dipertanyakan. Realitas menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan berakar pada kebijakan tata kelola sumber daya alam kurang berpihak pada keberlanjutan.

Koalisi Rimpang Borneo melihat pola ini sebagai krisis sistemik. Eksploitasi skala besar, mulai dari perkebunan, pertambangan, hingga industri kehutanan, menciptakan tekanan berlapis terhadap ekosistem.

Dalam catatan lapangan, wilayah gambut kian rentan terbakar. Hutan primer berkurang. Sungai kehilangan fungsi ekologis. Dampaknya menjalar hingga ke ruang hidup masyarakat.

Suara Lapang Hidup

Hari Bumi 2026 di Kalimantan Barat memantik seruan pulihkan hutan, hentikan eksploitasi, lindungi masyarakat adat, serta dorong aksi nyata cegah karhutla dan krisis iklim berkelanjutan
Perwakilan Mahasiswa Pecinta Alam menyampaikan kegelisahan itu secara lugas. Hari Bumi, bagi mereka, bukan sekadar pengingat tahunan, melainkan alarm moral.

Mereka menyoroti konflik ruang hidup masyarakat adat. Beberapa kasus muncul sebagai potret nyata tekanan terhadap penjaga hutan.

Kutipan disampaikan secara tegas, “Catatan bagi pemerintah kalbar saat ini... masyarakat adat menjaga ruang hidup harus berhadapan dengan perusahaan... kriminalisasi terjadi... negara tidak hadir.”

Kalimat itu singkat, namun menggambarkan ketimpangan struktural. Masyarakat adat, penjaga ekosistem selama generasi, justru menghadapi tekanan hukum serta ekspansi korporasi.

Kasus di Ketapang, Kapuas Hulu, hingga Sanggau menjadi simbol konflik berulang antara kepentingan ekonomi dan keberlanjutan ekologis.

Iklim Kian Panas

Krisis lokal tidak berdiri sendiri. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change menegaskan peningkatan suhu global mempercepat bencana ekologis.

Cuaca ekstrem meningkat. Permukaan laut naik. Ekosistem rapuh.

Namun, distribusi dampak tidak adil. Kelompok paling sedikit berkontribusi terhadap emisi justru menanggung beban terbesar. Masyarakat pesisir, petani kecil, hingga komunitas adat menjadi pihak paling rentan.

Dalam konteks Kalimantan Barat, dampak itu terasa nyata. Banjir datang lebih sering. Musim kering memicu karhutla lebih luas. Udara tercemar asap. Kesehatan masyarakat terancam.

WALHI Kalimantan Barat menyoroti kondisi tersebut sebagai kegagalan struktural. Eksploitasi terus berjalan, sementara pemulihan berjalan lambat.

Mereka menegaskan, “Hari Bumi 2026 momentum refleksi... eksploitasi terus terjadi... negara tidak serius melakukan pemulihan.”

Kritik itu mengarah pada kebijakan belum berpihak pada keberlanjutan. Penanganan bencana masih bersifat reaktif, bukan preventif.

Padahal, tanpa perubahan arah kebijakan, siklus kerusakan akan terus berulang. Tim Cegah Api dari Greenpeace Indonesia menyoroti ancaman Karhutla. 

Kebakaran hutan tidak sekadar persoalan lahan. Ia menyentuh kesehatan publik, stabilitas ekonomi, hingga masa depan generasi muda.

Pesan mereka sederhana: hentikan pembakaran, laporkan titik api, jaga hutan bersama. Karhutla bukan fenomena baru. Namun frekuensi meningkat menunjukkan ada persoalan struktural dalam pengelolaan lahan.

Krisis Iklim Nyata

Gerakan Extinction Rebellion Pontianak melihat Hari Bumi bukan lagi ruang refleksi, melainkan alarm keras.

Banjir, kebakaran, kenaikan muka laut menjadi bukti nyata krisis iklim sudah hadir.

Mereka menuntut langkah konkret: penghentian izin tambang baru, penegakan hukum terhadap pelaku deforestasi, percepatan transisi energi berkeadilan.

Pernyataan mereka tegas: tanpa tindakan nyata, masa depan dipertaruhkan. Di tengah situasi kompleks, harapan muncul dari generasi muda. 

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan menegaskan peran penting anak muda dalam menjaga bumi.

Kutipan mereka berbunyi, “Menjaga lingkungan bukan pilihan, melainkan tanggung jawab bersama.”

Aksi nyata dilakukan melalui kampanye, diskusi, hingga penanaman mangrove. Langkah kecil, namun konsisten, menjadi fondasi perubahan jangka panjang.

Koalisi Rimpang Borneo merumuskan tiga tuntutan utama. Pertama, penghentian izin baru bagi korporasi skala besar dalam sektor ekstraktif. Kedua, pemulihan ekosistem gambut serta lahan kritis. Ketiga, penghentian kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan. Tiga poin ini mencerminkan kebutuhan mendesak untuk perubahan arah kebijakan.

Sebagai aksi konkret, koalisi merencanakan penanaman 500 bibit mangrove di Desa Kuala Karang. Mangrove bukan sekadar tanaman. Ia benteng alami terhadap abrasi, penyerap karbon, sekaligus penopang kehidupan pesisir.

Penanaman ini menjadi simbol harapan. Bahwa pemulihan masih mungkin dilakukan, meski kerusakan telah meluas.

Jika ditarik lebih dalam, krisis ekologis Kalimantan Barat mencerminkan konflik antara dua paradigma pembangunan.

Paradigma pertama berbasis eksploitasi. Fokus pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Sumber daya alam dipandang sebagai komoditas.

Paradigma kedua berbasis keberlanjutan. Menempatkan alam sebagai sistem penopang kehidupan. Selama paradigma pertama dominan, konflik ekologis akan terus terjadi.

Data global menunjukkan bahwa wilayah dengan deforestasi tinggi cenderung mengalami peningkatan bencana ekologis. Hal ini selaras dengan kondisi Kalimantan Barat.

Selain itu, ketimpangan sosial memperparah dampak. Kelompok rentan memiliki kapasitas adaptasi rendah. Akibatnya, mereka menjadi korban utama.

Dari perspektif ilmiah, solusi harus mencakup pendekatan multidimensi. Kebijakan publik, partisipasi masyarakat, penegakan hukum, serta edukasi lingkungan harus berjalan simultan.

Perubahan tidak cukup melalui kampanye simbolik. Dibutuhkan reformasi kebijakan. Pertama, transparansi izin usaha berbasis sumber daya alam. Kedua, penguatan perlindungan masyarakat adat. Ketiga, investasi pada energi terbarukan.

Keempat, sistem peringatan dini bencana berbasis teknologi. Tanpa langkah ini, krisis akan terus berulang. 

Hari Bumi 2026 di Kalimantan Barat menjadi refleksi mendalam. Bumi bukan sekadar ruang hidup, melainkan sistem kompleks penopang kehidupan.

Kerusakan satu bagian akan berdampak pada keseluruhan. Seruan “Pulihkan Nadi Hijau Kita” menjadi pengingat bahwa keberlanjutan bukan pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

Jaga hutan mulai hari ini. Laporkan titik api sekitar. Dukung gerakan lingkungan lokal. Kurangi jejak karbon pribadi

Di balik hiruk pikuk peringatan Hari Bumi, tersimpan pesan sederhana namun kuat. Alam tidak membutuhkan manusia. Manusia membutuhkan alam.

Jika nadi hijau berhenti, kehidupan ikut terhenti. Momentum ini menjadi titik balik. Antara memilih melanjutkan pola lama, atau berani beralih menuju masa depan berkelanjutan. Pilihan ada pada semua pihak.
Naik Dango ke-3 Kota Pontianak 2026, Harmoni Adat Lestari

Naik Dango ke-3 Kota Pontianak 2026, Harmoni Adat Lestari

Naik Dango ke-3 Kota Pontianak 2026
  • Seminar ini adalah forum dialog strategis antara Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak, pemerintah, akademisi, dan generasi muda. Acara diselenggarakan pada Minggu, 19 April 2026 di Kota Pontianak Kalimantan Barat.

  • Apa hasil dari Seminar Naik Dango Ke-3 Pontianak? Dihasilkannya pemahaman bersama bahwa pengukuhan hutan adat dan peran sekolah adat sangat vital untuk masa depan Dayak.

  • Siapa saja tokoh yang hadir? DAD Kota Pontianak, J Budi Assa, Alexius Akim, Cornelius Kimha, Prof. Gusti Hardiansyah, dan Syarif Faisal.

  • Hutan adat berfungsi sebagai identitas budaya, sumber ekonomi, serta fondasi ekologi yang menjaga kelestarian alam Pulau Kalimantan bagian barat. 

Kalimantannews.id, Pontianak - Aula itu tak sekadar ruang beratap dan berdinding. Pada Minggu pagi, 19 April 2026, gedung di Kota Pontianak itu menjelma menjadi ruang rekat bagi ingatan kolektif sekaligus laboratorium masa depan. 

Tepat pukul setengah delapan pagi, langkah kaki mulai berderap pelan mengisi barisan kursi. Di antara kerumunan peserta, sepasang mata milik Tina berbinar.

Perempuan muda yang tengah menimba ilmu di salah satu universitas swasta Kota Pontianak itu duduk di barisan depan, menanti tetes demi tetes kearifan yang akan dituturkan para tetua dan cendekia.

Tina adalah wajah dari generasi baru Kalimantan Barat. Lahir di Kabupaten Landak, ia tumbuh di antara cerita rimba dan alunan doa syukur pascapanen. 

Hari itu, ia datang bukan hanya untuk memenuhi absensi seminar, melainkan untuk menuntaskan dahaga intelektual terkait tanah dan hutannya sendiri. 

Seminar Naik Dango ke-3 Kota Pontianak bertajuk “Keselarasan Regulasi Pemerintah di Sektor Kehutanan dan Pertanahan dengan Keberadaan Status Kawasan Hutan Adat dan Masyarakat Adat.” 

Bagi Tina, topik ini bukan sekadar istilah teknis dalam kitab undang undang, melainkan nadi kehidupan keluarganya di pedalaman.

"Ini hal penting bagi saya. Banyak ilmu didapat," ucap Tina dengan senyum semringah yang tak mampu ia sembunyikan. 

Di balik tiga patah kata itu, tersimpan kesadaran mendalam bahwa ia adalah ahli waris sah peradaban Dayak yang tengah berjuang di tengah pusaran zaman.

Mars Gema Kebersamaan

Naik Dango ke-3 Kota Pontianak 2026
Selepas registrasi, aula mendadak hening khusyuk. Doa dipanjatkan, merayap naik menembus langit langit ruangan, memohon agar diskusi hari itu melahirkan jalan terang bagi tanah Borneo. 

Suasana kemudian berubah menjadi gegap nan khidmat ketika alunan "Indonesia Raya" menyatu dengan "Mars Dayak". 

Dua lagu itu berdiri sejajar, melambangkan bahwa mencintai identitas kesukuan adalah bagian utuh dari mencintai republik.

Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak, Yohanes Nenes, membuka acara dengan pesan dalam. 

Seminar ini jelas bukan seremoni rutin tahunan. Ada beban sejarah yang dipikul di pundak setiap peserta. 

Bagaimana tidak, hutan adat kerap kali dianggap sebagai ruang kosong tak bertuan di atas peta pembangunan, padahal di dalamnya hidup manusia, roh leluhur, dan ekosistem yang menopang paru-paru dunia.

Memasuki sesi utama, panggung diskusi mulai menunjukkan taring analisanya. J Budi Assa, selaku GM CU Pancur Kasih, tampil membuka cakrawala berpikir peserta. 

Ia tidak melulu bicara soal skema kredit atau simpan pinjam, melainkan menohok inti persoalan keberlanjutan. 

Ia menekankan, "Pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan."

Kalimat itu seperti aliran listrik yang menyengat kesadaran Tina. Selama ini, banyak pemuda merasa isu lingkungan terlalu berat untuk dipikul. 

Padahal, keputusan hari ini tentang sejengkal tanah adat akan menentukan apakah cucu mereka kelak masih bisa mendengar siulan burung enggang di pepohonan atau hanya melihatnya sebagai fosil digital di museum maya.

Giliran berikutnya, Alexius Akim tampil dengan penuh semangat membara. Suaranya lantang menggugah ingatan sejarah panjang suku Dayak. 

Ia menggarisbawahi, "Pentingnya pemahaman generasi muda Dayak terhadap hutan adat sebagai bagian dari identitas dan sumber kehidupan masyarakat." 

Bagi Akim, hutan bukan sekadar komoditas kayu yang siap diangkut truk pengangkut. Hutan adalah ibu. Ia menyusui, memberi obat, dan menyediakan air jernih.

Puncak diskusi kian tajam ketika Cornelius Kimha membeberkan keruwetan legal formal. Ia memaparkan secara runut ihwal "Pengukuhan kawasan hutan adat dan masyarakat adat sebagai langkah strategis dalam memberikan kepastian hukum serta perlindungan terhadap hak hak masyarakat adat." 

Di sinilah letak ironi yang acapkali terjadi. Masyarakat adat hidup di tanahnya sendiri, namun sering kali harus berjuang mati matian membuktikan bahwa tanah itu memang milik mereka. 

Kepastian hukum, menurut Kimha, adalah benteng terakhir agar masyarakat adat tidak terusir dari rumahnya sendiri.

Diskusi yang dipandu Eva Caroline berlangsung sangat interaktif. Pertanyaan demi pertanyaan kritis terlontar, menandakan bahwa peserta tidak ingin sekadar menjadi pendengar pasif. 

Ada kemarahan yang tertahan, ada harapan yang menggebu, dan di sana, di sudut aula, Tina mencatat semuanya dengan tekun.

Sesi siang menjelang sore tidak kalah menarik. Professor Gusti Hardiansyah bersama Adi Yani membawa perspektif makro mengenai peran negara. 

Mereka "Menekankan pentingnya kebijakan yang tidak hanya kuat secara regulasi, tetapi juga efektif dalam implementasi di lapangan." 

Ini adalah kritik halus sekaligus tajam terhadap birokrasi. Tak jarang, produk hukum di tingkat pusat sudah sempurna, namun saat turun ke akar rumput, implementasinya tumpul karena minimnya pengawasan atau anggaran.

Materi pamungkas sekaligus paling menyentuh sisi humanis disampaikan Syarif Faisal Indahmawan Alkadri. Ia bicara soal Sekolah Adat. 

Agar mereka bisa membedakan mana pohon tengkawang yang bernilai ekonomi tinggi dan mana pohon keramat yang harus dijaga dari sentuhan kapak.

Cermin Refleksi Bumi Khatulistiwa

Naik Dango ke-3 Kota Pontianak 2026
Saat acara ditutup dan sesi foto bersama usai, Tina masih berdiri memandangi panggung kosong. Ada api kecil yang mulai menyala di benaknya. 

Ilmu yang ia serap hari itu terasa jauh lebih berharga daripada sekadar nilai ujian di kampus. 

Seminar Naik Dango ke-3 Pontianak ini sukses menjadi ruang pertemuan antara kebijakan negara dan kearifan lokal, antara pemikiran akademis dan jeritan hati warga adat.

Kegiatan ini membuktikan bahwa Kalimantan Barat tidak pernah kehabisan stok pemikir kritis. Dari para sesepuh dewan adat hingga mahasiswi seperti Tina, semua memiliki porsi untuk bersuara. 

Dialog hari itu menegaskan satu hal, masa depan hutan Kalimantan bukan hanya soal regulasi yang bertinta emas. 

Ini melainkan soal kemauan bersama untuk duduk rendah hati mendengar bisikan angin di antara dahan dan titah leluhur yang terukir di tanah.

Seminar Naik Dango ketiga Kota Pontianak ini bukanlah titik akhir. Ia hanyalah sebuah pos peristirahatan sejenak dalam perjalanan panjang memperjuangkan hak hak adat. 

Jalan di depan masih terjal dan dipenuhi semak belukar kepentingan. Namun, dengan semangat muda seperti yang ditunjukkan Tina. 

Dedikasi para tokoh adat yang tak pernah padam, asa untuk mewujudkan kebijakan inklusif. Juga berkelanjutan di Kalimantan Barat tetaplah menyala, seterang matahari pagi di garis khatulistiwa.

Formulir Kontak