Kalimantannews.id
Wagub Krisantus: Mahasiswa STTI Harus Mampu Menguasai Teknologi

Wagub Krisantus: Mahasiswa STTI Harus Mampu Menguasai Teknologi

Wagub Krisantus: Mahasiswa STTI Harus Mampu Menguasai Teknologi
Kalimantannews.id, Pontianak - Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi mahasiswa. 

Menurutnya, tantangan ke depan semakin berat sehingga mahasiswa harus siap menghadapi perubahan zaman.

Hal itu disampaikan Krisantus saat membuka Lomba Persekutuan Sekolah Tinggi Teologi Indonesia (STTI) yang diikuti 15 Sekolah Tinggi Teologi se-Kalbar di STT Anjungan, Mempawah, Kamis (8/10/2026). Kegiatan ini mengusung tema "God's Arrow Generation".

"Siapa yang tahu di sini para mahasiswa dan para dosen, 10 tahun ke depan seperti apa," kata Krisantus dalam sambutannya.

Ia mengatakan, mahasiswa STTI tidak harus menjadi pendeta. Lulusan STTI juga bisa menjadi pemimpin di berbagai bidang sosial dan kelembagaan di masyarakat.

Namun, tantangan terbesar yang harus diantisipasi adalah penguasaan ilmu dan teknologi. Sebab saat ini hampir semua kebutuhan manusia bisa dipenuhi melalui aplikasi dan teknologi, mulai dari transaksi, pendidikan, belanja, hingga informasi.

"Informasi juga jangan ditelan mentah-mentah tapi harus dicek dan ricek kebenarannya, karena berseliweran berita-berita hoax," ujarnya.

Krisantus mencontohkan pengalamannya saat bertugas di Komisi I DPR RI. Ia dituntut mampu berbahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan para duta besar, mengikuti fit and proper test calon dubes, hingga membahas alutsista dan pertahanan.

Sebagai mahasiswa, ia juga berpesan agar tidak hanya belajar hal-hal yang baik di dunia teknologi. Mahasiswa harus berani belajar hal-hal buruk agar mampu memilah mana yang benar dan tidak benar.

"Semua ada di dalam teknologi. Kita bisa lihat penipuan menggunakan filter di medsos, yang bopeng jadi cantik dan ganteng. Kita lihat bagaimana transaksi secara global, pemasaran, bisnis, hingga pendidikan dan informasi. Sehingga saya berpesan, kuasailah teknologi," pungkasnya.
Wagub Krisantus Dapat Julukan "Wagub Kocak" Saat Hadiri Prayer Gathering

Wagub Krisantus Dapat Julukan "Wagub Kocak" Saat Hadiri Prayer Gathering

Membangun Kebersamaan dan Memperkuat Pelayanan: Sinergi dan Kolaborasi
Kalimantannews.id, Pontianak - Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan mendapat julukan "Wagub Kocak" dari para peserta Prayer Gathering ke-V Jaringan Doa Wanita Nasional. Julukan itu muncul karena gaya bicaranya yang diselingi canda dan lelucon. 

Acara dengan tema "Membangun Kebersamaan dan Memperkuat Pelayanan: Sinergi dan Kolaborasi" tersebut dihadiri peserta dari 38 provinsi dan 1 peserta dari Sarawak, Malaysia. Kegiatan berlangsung di Pontianak, Jumat (9/10/2026). Acara ini sekaligus ditutup Wagub Kalbar Krisantus Kurniawan yang didukung juga oleh Wakil Bupati Landak Erani.

Para peserta, yang sebagian besar merupakan ibu-ibu lansia, dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh cerita-cerita lucu dan bermakna yang disampaikan Krisantus. 

Candaan yang disampaikan Wagub merupakan joke multi-etnis yang menyentuh realitas sosial di masyarakat Indonesia. 

Salah satu guyonan yang paling mengundang tawa terjadi saat ia memberi salam kepada Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda.

"Salam saya kepada Gubernur Maluku Utara Ibu Sherly," kata Krisantus. Spontan ucapan itu disambut tawa peserta karena ada perwakilan dari Maluku Utara yang hadir. 

Wagub juga membagikan cerita tentang keluguan masyarakat Dayak dalam memberi nama anak. Menurutnya, masyarakat Dayak tidak memiliki nama marga, sehingga nama diberikan berdasarkan situasi dan kondisi saat bayi lahir. 

"Warga Dayak tidak punya nama. Makanya ambil nama dari orang lain atau situasi saat itu, saat bayi dilahirkan, dilihat, didengar saat itu. Ketika dia memberi nama 'kotoran', itulah yang dia alami," kata Krisantus disambut tawa peserta. 

"Untung saja bapak saya sekolah, jadi tak memberi nama 'kotoran'. Kan tidak lucu juga kalau nama anaknya suatu hari jadi Wagub dan kemudian bernama Wagub Kotoran," candanya yang membuat ruangan kembali riuh oleh tawa. 

Dalam sambutannya yang tidak dibacakan, karena dinilai normatif, Krisantus juga berpesan agar para ibu menguasai teknologi.

"Ibu-ibu harus mampu memanfaatkan teknologi sehingga memudahkan kehidupan. Tapi juga harus tahu sisi negatif dari teknologi, khususnya yang ada di handphone. Karena banyak aplikasi yang bisa merubah kehidupan kita dalam sekejap. Mau baik atau buruk, 50:50 tinggal pilih. Karena itu kita harus banyak belajar dengan teknologi itu sendiri," ujarnya. 

Ia menegaskan peran ibu sangat vital sebagai garda terdepan dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan unggul.
Penang Membuka Pintu: Langsung Terbang dari Batam, Merajut Kembali Cerita Kedekatan Dua Negeri

Penang Membuka Pintu: Langsung Terbang dari Batam, Merajut Kembali Cerita Kedekatan Dua Negeri

Penang Membuka Pintu: Langsung Terbang dari Batam, Merajut Kembali Cerita Kedekatan Dua Negeri
Kalimantannews.id, Batam - Batam, pagi berangin di tepian Teluk Harbour Bay. Jendela ruang pertemuan Marriott membiaskan cahaya pagi ke wajah-wajah yang saling menjabat tangan. Di sanalah Penang Global Tourism bersama ASTINDO Indonesia membuka percakapan yang telah lama hidup dalam ingatan masyarakat kedua negeri. 

YB Wong Hon Wai berdiri di depan hadirin. Tatapannya tenang, seolah memandang melintasi selat yang memisahkan dua daratan yang bertetangga. 

Ia memimpin rombongan pelaku wisata Penang datang bukan sekadar menawarkan paket perjalanan. 

Mereka membawa undangan untuk mempererat ikatan yang tumbuh melalui kunjungan keluarga, perawatan kesehatan, usaha dagang, dan kenangan rasa yang serupa di meja makan. 

"Koneksi langsung membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat dan pelaku usaha," ujarnya tegas namun hangat. "Bersama ASTINDO, kami hadir menyusun perjalanan yang bermakna, bukan sekadar berpindah tempat." 

Indonesia telah lama menjadi sahabat terdekat Penang. Negeri ini menempati posisi pertama dalam daftar kedatangan wisatawan asing ke sana. 

Hubungan ini bukan angka statistik semata. Ia terjalin dari puluhan ribu perjalanan orang yang mencari pengobatan, berkunjung kerabat, atau sekadar menikmati suasana yang terasa akrab. 

Pada 18 Oktober 2026, ikatan itu diperkuat jalur udara baru. Batik Air meluncurkan penerbangan langsung Batam–Penang. 

Tanpa transit, tanpa jeda panjang. Pintu dibuka lebar untuk kunjungan singkat, urusan usaha, perawatan medis, liburan keluarga, hingga perpaduan pengobatan dan rekreasi. 

Penang menyambut kedatangan itu dengan kekayaan yang tak habis dijelajahi. 
George Town berdiri tegak sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. 

Lorong-lorongnya menyimpan jejak budaya Melayu, Tionghoa, India, dan Peranakan yang menyatu dalam aroma rempah dan tata bangunan. 

Bukit Penang menawarkan udara sejuk dan pandangan ke perairan yang berkilauan. Cagar Biosfer mengajak menyelami alam yang tetap terjaga.

Bagi yang pernah datang, masih banyak yang belum diketahui. Entopia mengajak menyapa kelelawar dan kupu-kupu di taman terbuka. 

The Habitat membelah hutan hujan asli di puncak bukit. Benteng Cornwallis menyimpan kisah masa lalu. 

Galeri Sejarah Penang merangkai benang perjalanan negeri ini. Museum Feri mengingatkan jalur silam yang kini digantikan jembatan dan rute udara baru. 

Di seberang pulau, wilayah daratan utama menyuguhkan wajah lain. Susur sungai, pantai tenang, sisa-sisa masa lampau di Guar Kepah. 

Restoran tepi laut seperti Umi Umi menyajikan rasa yang tak dijumpai di tempat lain. Pilihan tempat menginap bertambah luas, memudahkan siapa pun menyusun kunjungan sesuai keinginan. 

Pauline Suharno, Ketua Umum ASTINDO, memandang pergeseran zaman. Wisatawan kini tak sekadar mencari tempat rekreasi. 

Mereka berkelana untuk menyegarkan jiwa, menikmati momen, merasakan pengalaman yang membekas. 

Data Lokadata menunjukkan hampir sepertiga pelancong memilih perjalanan sebagai sarana pemulihan diri. Delapan puluh delapan persen bersedia membayar lebih untuk kenangan yang tak tergantikan. 

Doli Hasibuan, Ketua ASTINDO Kepulauan Riau, menegaskan Penang menjawab kebutuhan itu. 

"Penang adalah pelarian yang pas bagi warga Kepulauan Riau. Dekat, kaya budaya, lengkap fasilitas kesehatan dan rekreasi," ucapnya mantap. 

Ia melihat kesesuaian sempurna antara apa yang ditawarkan dan apa yang dicari.
Rute udara baru ini bukan sekadar jadwal terbang. 

Ia adalah jembatan yang dipersingkat. Mengubah perjalanan yang dulu butuh perencanaan matang menjadi keputusan yang mudah diambil. 

Mengundang siapa saja untuk datang kembali, atau datang untuk pertama kali, dan menemukan bahwa kedekatan itu nyata, bukan sekadar jarak di peta. Penang kini menanti, dengan pintu yang terbuka lebar.
Kapolresta Bandung Kombes Tri Suhartanto Hadir di Pameran Alutsista HUT TNI ke 81 2026

Kapolresta Bandung Kombes Tri Suhartanto Hadir di Pameran Alutsista HUT TNI ke 81 2026

Kapolresta Bandung Kombes Tri Suhartanto Hadir di Pameran Alutsista HUT TNI ke 81 2026
  • Pameran Alutsista HUT TNI ke 81 2026 di Soreang, Kabupaten Bandung, menjadi ruang silaturahmi TNI, Polri, rakyat. 

  • Kapolresta Bandung Kombes Pol Dr. Tri Suhartanto, S.H., M.H., M.Si. hadir. Danpussenif TNI AD Letjen TNI H. Iwan Setiawan, S.E., M.M. memimpin. Warga naik Anoa dan Panser, berswafoto, merasakan kedekatan dengan tentara. 

  • Pengamanan gabungan Polresta Bandung dipimpin Kabag Ops Kompol Aef Suhendi, S.H. bersama Kapolsek Soreang Kompol Oeng Hoeruman, S.H., M.H. 

  • Acara berakhir pukul 11.00 WIB, aman, lancar, kondusif. Pesan utama: kemanunggalan TNI rakyat menjaga NKRI.

Kalimantannews.id, Bandung - Pagi di Soreang belum sepenuhnya terang. Deru mesin tempur memecah udara, memanggil warga mendekat. 

Pameran Alutsista HUT TNI ke 81 2026 di Soreang menjadi ruang temu TNI, Polri, dan rakyat. Kapolresta Bandung hadir. 

Warga naik Anoa, Panser, swafoto, silaturahmi. Pengamanan gabungan memastikan acara aman hingga pukul 11.00 WIB. 

Matahari Sabtu (3/10/2026) merangkak naik di Jalan Jenderal Sudirman, Kampung Bojong, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

Udara pagi masih bersih. Deru kendaraan tempur memecah ketenangan. Warga berdatangan. Mereka ingin menyaksikan Pameran Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) dalam rangka HUT ke 81 TNI Tahun 2026.

Di depan area pameran, Kapolresta Bandung Komisaris Besar Polisi Dr. Tri Suhartanto, S.H., M.H., M.Si. tampak hadir. 

Ia menyapa jajaran Forkopimda Kabupaten Bandung. Personel TNI Polri bersiap. Masyarakat setempat memadati tepi jalan. Suasana hangat, akrab, penuh rasa ingin tahu.

Kegiatan dipimpin langsung Danpussenif TNI AD Letjen TNI H. Iwan Setiawan, S.E., M.M. Rangkaian acara dibuka. Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang.  
Sambutan disampaikan. Doa bersama dipanjatkan. Pejabat meninjau area pameran. Semua berjalan runut.

Dalam sambutannya, Letjen TNI H. Iwan Setiawan menegaskan pameran ini digelar untuk mempererat kemanunggalan TNI dengan rakyat. 

Warga Kabupaten Bandung diberi kesempatan mengenal lebih dekat berbagai Alutsista. Mereka bisa berswafoto. 

Mereka bisa merasakan langsung sensasi menaiki kendaraan tempur seperti Anoa dan Panser.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi sarana silaturahmi untuk meningkatkan kebersamaan serta dukungan masyarakat kepada TNI dalam menjaga keutuhan NKRI,” ujar Letjen TNI Iwan Setiawan.

Kalimat itu menggema. Bukan sekadar seremonial. Pameran menjadi jembatan emosi. Anak anak berlari kecil. 

Orang tua tersenyum. Tentara memberi penjelasan. Polisi menjaga arus warga. Semua menyatu dalam satu tujuan: kedekatan.

Warga datang dari berbagai penjuru. Ada pelajar, pedagang, ibu rumah tangga, pegawai. Mereka mengantre rapi. 

Panas matahari tidak menyurutkan langkah. Antusiasme terasa. Pameran Alutsista bukan tontonan biasa. Ini ruang belajar. Ini ruang silaturahmi. Ini ruang kebanggaan.

Seorang bapak menggendong anaknya. Ia menunjuk ke arah Panser. Anak itu bertepuk tangan. 

Seorang remaja mengangkat ponsel. Ia berfoto dengan latar kendaraan tempur. Seorang nenek duduk di kursi lipat. 

Ia menyaksikan keramaian dengan mata berbinar. Detail kecil ini menghidupkan peristiwa besar.

Kapolresta Bandung Dr. Tri Suhartanto memberi perhatian pada pengamanan. Ia berkoordinasi dengan jajaran. 

Polresta Bandung menerjunkan personel pengamanan gabungan. Tim dipimpin Kabag Ops Polresta Bandung Kompol Aef Suhendi, S.H., bersama Kapolsek Soreang Kompol Oeng Hoeruman, S.H., M.H. 

Mereka mengatur lalu lintas. Mereka menjaga pintu masuk. Mereka memastikan warga nyaman.

Apa Itu Kemanunggalan TNI Rakyat?


Kemanunggalan TNI rakyat bukan slogan kosong. Pameran membuktikan. Warga bisa menyentuh Alutsista. 

Warga bisa naik Anoa. Warga bisa duduk di Panser. TNI membuka diri. Polri mengawal. Forkopimda hadir. Semua elemen bersatu. Kebersamaan ini penting. NKRI berdiri di atas dukungan rakyat.

Letjen TNI H. Iwan Setiawan menyebut kegiatan ini sarana silaturahmi. Pesannya jelas. Dukungan masyarakat kepada TNI menjaga keutuhan NKRI. 

Pesan ini relevan. Dunia berubah cepat. Ancaman datang dalam berbagai bentuk. Kedekatan TNI dan rakyat menjadi benteng.

Seorang pedagang es keliling mengaku dagangannya laris. Ia senang acara ini digelar. Warga Soreang merasa dihargai. 

Mereka tidak hanya menonton. Mereka dilibatkan. Mereka diajak mengenal alat pertahanan. Mereka diberi ruang bertanya.

Di sisi lain, petugas kesehatan bersiaga. Ambulans terparkir. Pos keamanan berdiri. Koordinasi lintas sektor berjalan. 

TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, semua bergerak. Tujuan utama keselamatan warga. Kenyamanan pengunjung. Kelancaran acara.

Pameran ini bukan hanya pamer kekuatan. Ini pendidikan publik. Anak anak melihat tank. 

Remaja belajar sejarah. Orang tua mengenang masa. Masyarakat memahami peran TNI. Peran Polri. Peran rakyat. Semua saling melengkapi.

Kapolresta Bandung menegaskan komitmen. Ia hadir memberi dukungan. Ia memastikan pengamanan maksimal. 

Ia menyapa warga. Ia berbincang dengan personel. Kehadiran ini simbol sinergi. Sinergi TNI Polri. Sinergi aparat rakyat.

Letjen TNI H. Iwan Setiawan mengajak masyarakat menjaga persatuan. Pesan ini penting. Indonesia besar. 

Indonesia beragam. Kebersamaan modal utama. Pameran menjadi wadah. Wadah silaturahmi. Wadah edukasi. Wadah kebanggaan.

Pengamanan Aman Kondusif


Kapolsek Soreang Kompol Oeng Hoeruman mengonfirmasi seluruh rangkaian kegiatan pembukaan berakhir pukul 11.00 WIB. 

Acara berjalan aman, lancar, kondusif. Tidak ada hambatan berarti. Personel gabungan bekerja sigap. Arus warga terkendali. Area pameran tertib.

Kehadiran Kapolresta Bandung menegaskan sinergi. TNI dan Polri tidak berjalan sendiri. Mereka bersama rakyat. 

Pameran Alutsista menjadi cermin. Kekuatan militer bukan alat menakutkan. Kekuatan militer adalah pelindung. Rakyat adalah pemilik negeri. TNI adalah penjaga. Polri adalah pengayom.

Pukul 11.00 WIB, acara pembukaan usai. Warga masih bertahan. Mereka mengabadikan momen. 

Mereka mengajak keluarga. Mereka pulang dengan cerita. Cerita tentang Anoa. Cerita tentang Panser. 

Cerita tentang tentara ramah. Cerita tentang polisi sigap. Cerita tentang Soreang pagi penuh makna.

Di balik Alutsista, ada harapan. Di balik seragam, ada pengabdian. Di balik pameran, ada silaturahmi. 

Kabupaten Bandung menjadi saksi. HUT ke 81 TNI Tahun 2026 menjadi titik temu. TNI, Polri, rakyat, satu napas. Satu langkah. Satu tujuan.

Peristiwa ini mengajarkan banyak hal. Keamanan bukan hanya tugas aparat. Keamanan adalah kerja bersama. 

Kedekatan bukan hanya retorika. Kedekatan adalah kehadiran. Pameran Alutsista membuka ruang dialog. Warga bertanya. Petugas menjawab. Anak anak belajar. Orang dewasa memahami.

Di ujung acara, Kapolresta Bandung meninggalkan lokasi. Personel tetap bersiaga. Warga bubar perlahan. 

Jalan Jenderal Sudirman kembali lengang. Namun gaung kebersamaan tetap tertinggal. Soreang pagi itu mencatat satu hal: TNI dan rakyat tidak terpisahkan.

Warga berharap acara serupa digelar lagi. Mereka ingin lebih dekat dengan TNI. Mereka ingin lebih dekat dengan Polri. 

Mereka ingin Alutsista dikenal. Bukan untuk perang. Tetapi untuk pertahanan. Untuk perlindungan. Untuk kedaulatan.

Di sudut pameran, seorang anak bertanya kepada tentara. Apa itu Anoa? Tentara menjawab ramah. 

Anoa adalah kendaraan tempur. Anak itu mengangguk. Matanya berbinar. Momen kecil ini bermakna. Edukasi hadir tanpa sekat. Dialog berjalan hangat.

Polisi mengatur arus. Tentara menjelaskan alat. Warga menikmati acara. Forkopimda mendampingi. 

Semua berjalan sesuai rencana. Pukul 11.00 WIB, pembukaan resmi berakhir. Namun semangat tidak berakhir. Pameran masih berlanjut. Warga masih bisa datang.

Kekuatan sebuah bangsa tidak hanya pada senjata. Kekuatan bangsa ada pada persatuan. Pada kepercayaan. 

Pada silaturahmi. Pada kedekatan pemimpin dan rakyat. Soreang memberi contoh. HUT ke 81 TNI menjadi momentum. Momentum memperkuat NKRI.
Bukan Duduk di Kursi, Kapolresta Bandung Kombes Pol Tri Suhartanto Atur Lalu Lintas Pagi

Bukan Duduk di Kursi, Kapolresta Bandung Kombes Pol Tri Suhartanto Atur Lalu Lintas Pagi

Bukan Duduk di Kursi, Kapolresta Bandung Kombes Pol Tri Suhartanto Atur Lalu Lintas Pagi
  • Hari kedua menjabat, Kapolresta Bandung Kombes Pol Tri Suhartanto turun ke Katapang. Ia atur lalu lintas pagi bersama personel. Ia bantu urai kepadatan. 

  • Ia pastikan warga memulai aktivitas aman, tertib, lancar. Kehadiran polisi harus dirasakan langsung. Ia tidak bekerja dari balik meja. Ia melihat situasi lapangan. 

  • Ia mengetahui kebutuhan masyarakat. Ia memberi respons cepat. Ia sapa pengendara. Ia ingatkan aturan lalu lintas. Ia utamakan keselamatan warga. 

  • Ada gestur tegas. Ada dialog hangat. Ada harapan warga. Kapolresta Bandung, lalu lintas Katapang, keselamatan warga.

Kalimantannews.id, Bandung - Pagi di Katapang belum sepenuhnya terbuka. Di antara klakson, lampu merah, dan napas warga, seorang perwira turun ke aspal.

Hari kedua menjabat, Kombes Pol Tri Suhartanto memilih jalanan sebagai ruang kerja. Ia atur arus, sapa warga, titip pesan keselamatan. Langkah ini menegaskan polisi hadir untuk melayani, bukan menunggu laporan.

Hari kedua Komisaris Besar Polisi Tri Suhartanto menjabat Kapolresta Bandung. Ia tidak memilih ruang rapat. Rabu 30 September 2026, ia turun ke Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

Udara pagi masih tipis. Kendaraan mengalir dari arah pasar, permukiman, dan jalan utama. Bersama personel, ia mengatur arus. 

Ia membantu mengurai kepadatan. Ia memastikan masyarakat memulai aktivitas dengan aman, tertib, lancar.

Di simpang itu, gestur Tri tegas. Tangannya memberi isyarat. Matanya menyapu setiap lajur. 

Ada pengendara menerobos? Ia ingatkan pelan. Ada ibu membawa anak? Ia bantu menyeberang. Detail kecil ini penting. 

Bagi Tri, kehadiran polisi harus dirasakan langsung. Ia tidak ingin bekerja dari balik meja. 

Ia ingin melihat situasi lapangan. Ia ingin mengetahui kebutuhan masyarakat. Ia ingin memberi respons cepat. 

“Kita tidak hanya bekerja dari balik meja, tetapi harus melihat langsung situasi di lapangan, mengetahui kebutuhan masyarakat dan memberikan respons cepat,” kata Tri Suhartanto.

Keselamatan Warga Utama

Bukan Duduk di Kursi, Kapolresta Bandung Kombes Pol Tri Suhartanto Atur Lalu Lintas Pagi
Selepas arus melandai, Tri menyapa warga. Ia berbincang singkat. Ia ingatkan pengguna jalan. 

Aturan lalu lintas harus dipatuhi. Keselamatan harus diutamakan. Kegiatan ini menjadi momentum menyapa warga. Ia berinteraksi langsung. 

“Kegiatan ini menjadi momentum untuk menyapa dan berinteraksi langsung dengan masyarakat serta mengingatkan pengguna jalan agar selalu mematuhi aturan lalu lintas dan mengutamakan keselamatan,” kata Tri Suhartanto. 

Kalimat itu sederhana. Maknanya dalam. Polisi hadir bukan untuk menakutkan. Polisi hadir untuk melayani. Polisi hadir untuk mengingatkan. Polisi hadir untuk menjaga.

Di balik peristiwa ini, ada cerita manusia. Ada pagi seorang pemimpin baru. Ada warga mengejar pekerjaan. 

Ada pedagang membuka lapak. Ada pelajar menuju sekolah. Lalu lintas bukan sekadar mesin dan aspal. 

Lalu lintas adalah denyut kehidupan. Ketika arus tersendat, harapan ikut tersendat. Ketika polisi hadir, rasa aman tumbuh. 

Tri memahami itu. Ia memulai tugas dari hal paling dekat. Ia menyentuh denyut jalan. Ia mendengar keluh kesah. 


Ada pelajaran kepemimpinan. Pemimpin tidak cukup memberi perintah. Pemimpin hadir. Pemimpin melihat. Pemimpin mendengar. Pemimpin bergerak. 

Hari kedua menjadi simbol. Simbol kedekatan. Simbol kesigapan. Simbol pelayanan. Tri tidak menunggu laporan. Ia mencari data langsung. 

Ia merasakan denyut warga. Ia melihat titik rawan. Ia mengukur kepadatan. Ia berbicara dengan pengendara. 

Ia memastikan arus berjalan. Tindakan ini kecil di mata sebagian orang. Namun dampaknya besar. 

Satu simpang lancar. Ribuan orang tiba tepat waktu. Satu pesan keselamatan. Banyak nyawa terlindungi. Satu sapaan hangat. Kepercayaan publik tumbuh.

Ini potret. Potret seorang Kapolresta Bandung di hari kedua. Potret warga Katapang di pagi sibuk. 

Potret harapan pada setiap perjalanan. Semua berjalan dalam satu denyut. Lalu lintas tertib. 

Warga aman. Aktivitas lancar. Pesan keselamatan bergema. Tri Suhartanto menutup pagi dengan senyum. Ia kembali ke tugas. Namun jejak kecil tertinggal. Jejak itu bernama kehadiran.
BGN, 480 Dapur dan Sepiring Harapan dari Tanah Timur

BGN, 480 Dapur dan Sepiring Harapan dari Tanah Timur

BGN, 480 Dapur dan Sepiring Harapan dari Tanah Timur
  • Di pegunungan Papua, seorang anak duduk di beranda sekolah. Ia memeluk piring kosong. Matanya menatap jalan berbatu. Ia bertanya pada ibu, kapan nasi hangat datang. Ibunya menunduk. Air mata jatuh di ujung selendang. 

  • Jumat, 2 Oktober 2026, Badan Gizi Nasional mengaktifkan 480 dapur SPPG. Dapur itu tersebar di 16 provinsi. Fokus awal Indonesia Timur. 

  • Bagi anak itu, dapur bukan sekadar bangunan. Ia adalah harapan. Ia adalah doa. Ia adalah mimpi sederhana: makan kenyang, belajar tenang, tumbuh kuat. 

  • Masyarakat diminta waspada. Jangan biarkan pungutan merampas harapan. Gizi anak adalah masa depan. Semoga dapur itu segera mengepul. Semoga tangis ibu berganti senyum.

Kalimantannews.id, Jakarta - Di ujung timur Nusantara, aroma nasi hangat belum singgah ke banyak meja. Jumat, 2 Oktober 2026, Badan Gizi Nasional menggerakkan 480 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Langkah ini memperluas Makan Bergizi Gratis ke wilayah tertinggal, terdepan, terluar. Fokus awal Indonesia Timur. Perut kosong bisa memutus mimpi. Maka kehadiran dapur bukan hanya bangunan, melainkan jembatan gizi. 
 
BGN menyiapkan 480 SPPG. Rinciannya 211 SPPG mitra mandiri dan 269 SPPG terpencil. Dapur tersebar di 16 provinsi, 116 kabupaten/kota. 

Kepala BGN, Sudaryono, menyatakan aktivasi dimulai Jumat, 2 Oktober 2026. Sasaran wilayah 3T, stunting tinggi, stunting sangat tinggi. 

“Kami mulai di wilayah Timur Indonesia,” kata Sudaryono Rabu, 30 Oktober 2026.

480 dapur tersebar di Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua, Sulawesi Tengah, Papua Barat Daya, Papua Barat, Maluku Utara, Maluku, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur. Sudaryono berada di Maluku. 

Wakil Kepala BGN, para deputi, pejabat eselon II ditempatkan di provinsi lain.
Aktivasi belum berarti seluruh dapur melayani penerima manfaat. 

BGN menjalankan tahapan. Tahapan meliputi pelatihan penjamah makanan, penyiapan operasional, penambahan penerima manfaat bertahap. 

“Tahapan ini dimulai 2 Oktober. Dapur siap beroperasi tiga atau empat minggu setelah aktivasi,” ujar Sudaryono.

Peta Stunting MBG


Peta stunting bukan peta abstrak. Ia menyimpan wajah anak, ibu, sekolah, masa depan bangsa. 

BGN membuka SPPG lain bertahap setelah 2 Oktober 2026. Prioritas daerah 3T, wilayah stunting tinggi, stunting sangat tinggi, daerah banyak aduan sekolah belum dapat MBG. 

Daerah jauh dari ibu kota jadi perhatian. Tantangan distribusi dan akses layanan lebih besar.

Kebijakan ini sejalan langkah BGN memperluas sasaran MBG ke sekolah di wilayah 3T dan daerah stunting tinggi. 

BGN sebelumnya memperbarui data penerima manfaat. BGN mengeluarkan 1.653 satuan pendidikan dari daftar penerima MBG. Penilaian tidak lagi prioritas berdasarkan kriteria program.

Perluasan layanan terjadi saat BGN membenahi tata kelola SPPG. September 2026, BGN menghentikan sementara operasional 1.276 SPPG belum memenuhi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. 

Sebanyak 821 SPPG dalam proses pendaftaran. 447 SPPG sudah mendaftar, belum memenuhi syarat. 

Delapan SPPG belum terkonfirmasi status SLHS. BGN sebelumnya menutup sementara 1.999 SPPG belum mendaftarkan SLHS. 

Empat SPPG dihentikan permanen. Penilaian: tidak memenuhi standar keamanan pangan dan tidak memperbaiki pelanggaran operasional.

Jaga Akses Pangan


Sudaryono menegaskan penentuan SPPG diaktifkan berdasarkan sistem dan basis data BGN. 

Tidak ada pihak luar diberi kewenangan mengatur atau menawarkan aktivasi dapur atas nama BGN. 

“Dapur ini lebih dari BGN menghubungi mitra, menempatkan kepala SPPG, mengaktifkan VA,” kata Sudaryono.

Sudaryono meminta masyarakat dan calon mitra waspada terhadap pihak mengaku perwakilan BGN. 

Peringatan berlaku bila ada pihak meminta pungutan atau imbalan mempercepat aktivasi. 

“Penentuan mana dibuka, mana duluan, mana belakangan ditentukan sistem, ditentukan database kami. Kami tidak mengotorisasi siapapun, tidak mengotorisasi asosiasi manapun, tidak mengotorisasi pribadi manapun,” ujar Sudaryono.

BGN melakukan verifikasi proses aktivasi. Sudaryono mengingatkan kemungkinan oknum mengatasnamakan pimpinan BGN. Tindakan merugikan atau meminta pungutan harus diwaspadai.

Perluasan SPPG berjalan bersamaan penguatan pengawasan dapur MBG beroperasi. Sudaryono menyebut keamanan pangan perhatian utama. 

BGN memperkuat standardisasi dapur, kapasitas penjamah makanan, rantai pasok, pemantauan mutu, keamanan pangan.

BGN mencatat realisasi anggaran MBG Rp139,77 triliun atau 63,89 persen dari pagu Rp218,77 triliun hingga 16 September 2026. 

BGN menyatakan masih ada sekitar Rp79 triliun belum terealisasi untuk mendukung penyaluran MBG sampai akhir tahun. 

BGN mulai memperkuat rantai pasok dengan mendorong penggunaan produk dalam negeri dan keterlibatan pelaku usaha lokal. Kebijakan ini bagian upaya memperluas dampak program di tingkat daerah.

Setelah aktivasi 2 Oktober, BGN melanjutkan pembukaan SPPG bertahap. Penentuan lokasi mengikuti kebutuhan layanan, hasil pemetaan sistem, kondisi wilayah, data penerima manfaat. Wilayah 3T dan daerah stunting tinggi tetap prioritas perluasan layanan.

Di ujung timur, nasi hangat bukan akhir cerita. Ia awal anak menapak sekolah, mengukir cita, membangun negeri. 

BGN menutup keterangan dengan ajakan waspada, transparan, gotong royong. Masyarakat bisa memantau, bertanya, melapor. Dapur dapur itu milik publik. Gizi anak adalah urusan bersama.

Formulir Kontak