Naik Dango ke-3 Kota Pontianak 2026, Harmoni Adat Lestari - Kalimantannews.id

Naik Dango ke-3 Kota Pontianak 2026, Harmoni Adat Lestari

Naik Dango ke-3 Kota Pontianak 2026, Harmoni Adat Lestari
Naik Dango ke-3 Kota Pontianak 2026
  • Seminar ini adalah forum dialog strategis antara Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak, pemerintah, akademisi, dan generasi muda. Acara diselenggarakan pada Minggu, 19 April 2026 di Kota Pontianak Kalimantan Barat.

  • Apa hasil dari Seminar Naik Dango Ke-3 Pontianak? Dihasilkannya pemahaman bersama bahwa pengukuhan hutan adat dan peran sekolah adat sangat vital untuk masa depan Dayak.

  • Siapa saja tokoh yang hadir? DAD Kota Pontianak, J Budi Assa, Alexius Akim, Cornelius Kimha, Prof. Gusti Hardiansyah, dan Syarif Faisal.

  • Hutan adat berfungsi sebagai identitas budaya, sumber ekonomi, serta fondasi ekologi yang menjaga kelestarian alam Pulau Kalimantan bagian barat. 

Kalimantannews.id, Pontianak - Aula itu tak sekadar ruang beratap dan berdinding. Pada Minggu pagi, 19 April 2026, gedung di Kota Pontianak itu menjelma menjadi ruang rekat bagi ingatan kolektif sekaligus laboratorium masa depan. 

Tepat pukul setengah delapan pagi, langkah kaki mulai berderap pelan mengisi barisan kursi. Di antara kerumunan peserta, sepasang mata milik Tina berbinar.

Perempuan muda yang tengah menimba ilmu di salah satu universitas swasta Kota Pontianak itu duduk di barisan depan, menanti tetes demi tetes kearifan yang akan dituturkan para tetua dan cendekia.

Tina adalah wajah dari generasi baru Kalimantan Barat. Lahir di Kabupaten Landak, ia tumbuh di antara cerita rimba dan alunan doa syukur pascapanen. 

Hari itu, ia datang bukan hanya untuk memenuhi absensi seminar, melainkan untuk menuntaskan dahaga intelektual terkait tanah dan hutannya sendiri. 

Seminar Naik Dango ke-3 Kota Pontianak bertajuk “Keselarasan Regulasi Pemerintah di Sektor Kehutanan dan Pertanahan dengan Keberadaan Status Kawasan Hutan Adat dan Masyarakat Adat.” 

Bagi Tina, topik ini bukan sekadar istilah teknis dalam kitab undang undang, melainkan nadi kehidupan keluarganya di pedalaman.

"Ini hal penting bagi saya. Banyak ilmu didapat," ucap Tina dengan senyum semringah yang tak mampu ia sembunyikan. 

Di balik tiga patah kata itu, tersimpan kesadaran mendalam bahwa ia adalah ahli waris sah peradaban Dayak yang tengah berjuang di tengah pusaran zaman.

Mars Gema Kebersamaan

Naik Dango ke-3 Kota Pontianak 2026
Selepas registrasi, aula mendadak hening khusyuk. Doa dipanjatkan, merayap naik menembus langit langit ruangan, memohon agar diskusi hari itu melahirkan jalan terang bagi tanah Borneo. 

Suasana kemudian berubah menjadi gegap nan khidmat ketika alunan "Indonesia Raya" menyatu dengan "Mars Dayak". 

Dua lagu itu berdiri sejajar, melambangkan bahwa mencintai identitas kesukuan adalah bagian utuh dari mencintai republik.

Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak, Yohanes Nenes, membuka acara dengan pesan dalam. 

Seminar ini jelas bukan seremoni rutin tahunan. Ada beban sejarah yang dipikul di pundak setiap peserta. 

Bagaimana tidak, hutan adat kerap kali dianggap sebagai ruang kosong tak bertuan di atas peta pembangunan, padahal di dalamnya hidup manusia, roh leluhur, dan ekosistem yang menopang paru-paru dunia.

Memasuki sesi utama, panggung diskusi mulai menunjukkan taring analisanya. J Budi Assa, selaku GM CU Pancur Kasih, tampil membuka cakrawala berpikir peserta. 

Ia tidak melulu bicara soal skema kredit atau simpan pinjam, melainkan menohok inti persoalan keberlanjutan. 

Ia menekankan, "Pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan."

Kalimat itu seperti aliran listrik yang menyengat kesadaran Tina. Selama ini, banyak pemuda merasa isu lingkungan terlalu berat untuk dipikul. 

Padahal, keputusan hari ini tentang sejengkal tanah adat akan menentukan apakah cucu mereka kelak masih bisa mendengar siulan burung enggang di pepohonan atau hanya melihatnya sebagai fosil digital di museum maya.

Giliran berikutnya, Alexius Akim tampil dengan penuh semangat membara. Suaranya lantang menggugah ingatan sejarah panjang suku Dayak. 

Ia menggarisbawahi, "Pentingnya pemahaman generasi muda Dayak terhadap hutan adat sebagai bagian dari identitas dan sumber kehidupan masyarakat." 

Bagi Akim, hutan bukan sekadar komoditas kayu yang siap diangkut truk pengangkut. Hutan adalah ibu. Ia menyusui, memberi obat, dan menyediakan air jernih.

Puncak diskusi kian tajam ketika Cornelius Kimha membeberkan keruwetan legal formal. Ia memaparkan secara runut ihwal "Pengukuhan kawasan hutan adat dan masyarakat adat sebagai langkah strategis dalam memberikan kepastian hukum serta perlindungan terhadap hak hak masyarakat adat." 

Di sinilah letak ironi yang acapkali terjadi. Masyarakat adat hidup di tanahnya sendiri, namun sering kali harus berjuang mati matian membuktikan bahwa tanah itu memang milik mereka. 

Kepastian hukum, menurut Kimha, adalah benteng terakhir agar masyarakat adat tidak terusir dari rumahnya sendiri.

Diskusi yang dipandu Eva Caroline berlangsung sangat interaktif. Pertanyaan demi pertanyaan kritis terlontar, menandakan bahwa peserta tidak ingin sekadar menjadi pendengar pasif. 

Ada kemarahan yang tertahan, ada harapan yang menggebu, dan di sana, di sudut aula, Tina mencatat semuanya dengan tekun.

Sesi siang menjelang sore tidak kalah menarik. Professor Gusti Hardiansyah bersama Adi Yani membawa perspektif makro mengenai peran negara. 

Mereka "Menekankan pentingnya kebijakan yang tidak hanya kuat secara regulasi, tetapi juga efektif dalam implementasi di lapangan." 

Ini adalah kritik halus sekaligus tajam terhadap birokrasi. Tak jarang, produk hukum di tingkat pusat sudah sempurna, namun saat turun ke akar rumput, implementasinya tumpul karena minimnya pengawasan atau anggaran.

Materi pamungkas sekaligus paling menyentuh sisi humanis disampaikan Syarif Faisal Indahmawan Alkadri. Ia bicara soal Sekolah Adat. 

Agar mereka bisa membedakan mana pohon tengkawang yang bernilai ekonomi tinggi dan mana pohon keramat yang harus dijaga dari sentuhan kapak.

Cermin Refleksi Bumi Khatulistiwa

Naik Dango ke-3 Kota Pontianak 2026
Saat acara ditutup dan sesi foto bersama usai, Tina masih berdiri memandangi panggung kosong. Ada api kecil yang mulai menyala di benaknya. 

Ilmu yang ia serap hari itu terasa jauh lebih berharga daripada sekadar nilai ujian di kampus. 

Seminar Naik Dango ke-3 Pontianak ini sukses menjadi ruang pertemuan antara kebijakan negara dan kearifan lokal, antara pemikiran akademis dan jeritan hati warga adat.

Kegiatan ini membuktikan bahwa Kalimantan Barat tidak pernah kehabisan stok pemikir kritis. Dari para sesepuh dewan adat hingga mahasiswi seperti Tina, semua memiliki porsi untuk bersuara. 

Dialog hari itu menegaskan satu hal, masa depan hutan Kalimantan bukan hanya soal regulasi yang bertinta emas. 

Ini melainkan soal kemauan bersama untuk duduk rendah hati mendengar bisikan angin di antara dahan dan titah leluhur yang terukir di tanah.

Seminar Naik Dango ketiga Kota Pontianak ini bukanlah titik akhir. Ia hanyalah sebuah pos peristirahatan sejenak dalam perjalanan panjang memperjuangkan hak hak adat. 

Jalan di depan masih terjal dan dipenuhi semak belukar kepentingan. Namun, dengan semangat muda seperti yang ditunjukkan Tina. 

Dedikasi para tokoh adat yang tak pernah padam, asa untuk mewujudkan kebijakan inklusif. Juga berkelanjutan di Kalimantan Barat tetaplah menyala, seterang matahari pagi di garis khatulistiwa.

Formulir Kontak