Di Ujung Khatulistiwa, Pontianak Menyalakan Asa Energi Bersih - Kalimantannews.id

Di Ujung Khatulistiwa, Pontianak Menyalakan Asa Energi Bersih

Di Ujung Khatulistiwa, Pontianak Menyalakan Asa Energi Bersih
Di Ujung Khatulistiwa, Pontianak Menyalakan Asa Energi Bersih
  • Dewan Energi Nasional dorong kolaborasi lintas sektor percepat transisi energi di Kalimantan Barat. Indeks Ketahanan Energi RI capai 7,13 menuju sangat tahan 2029.

  • Dewan Energi Nasional menggelar Seminar Nasional Energi Terbarukan di Pontianak, Sabtu 18 April 2026, mendorong percepatan transisi energi melalui kolaborasi lintas sektor.

  • Anggota DEN Muhammad Kholid Syeirazi menyebut Indeks Ketahanan Energi Indonesia berada di level 7,13 kategori tahan, optimistis menuju sangat tahan pada 2028-2029.

  • Wakil Wali Kota Bahasan menegaskan transisi energi kebutuhan mendesak, bukan agenda masa depan. Kalimantan Barat memiliki potensi besar energi surya, biomassa, air, hingga uranium.

  • Rektor UNU Kalbar Profesor Sukino menyebut transisi energi sebagai tanggung jawab moral menjaga kelestarian bumi sesuai ajaran agama. Kolaborasi pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan.

Kalimantannews.id, Pontianak - Kota Pontianak menyimpan cerita. Sabtu itu, 18 April 2026, langit kota khatulistiwa menjadi saksi sebuah pertemuan gagasan. 

Bukan sekadar seminar rutin, melainkan ruang perenungan kolektif tentang masa depan bumi Kalimantan Barat.

Di Hotel Golden Tulip, sekitar lima ratus pasang mata menatap satu arah transisi energi bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan.

Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat bersama Dewan Energi Nasional membuka ruang dialog itu. Mereka mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, pegiat lingkungan, hingga mahasiswa yang kelak mewarisi tanggung jawab besar ini.

Muhammad Kholid Syeirazi, Anggota Dewan Energi Nasional dari Unsur Pemangku Kepentingan, melukiskan potret ketahanan energi Indonesia hari ini.

Angka 7,13 ia sebut. Kategori tahan, katanya. Namun ia tak ingin berpuas diri. Optimisme membuncah tatkala ia membayangkan lompatan menuju kategori sangat tahan pada periode 2028 hingga 2029.

"Transisi energi membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat. Masa depan energi Indonesia dibangun secara bersama sama," ujar Muhammad Kholid Syeirazi dengan nada mantap.

Ia tidak berhenti pada retorika. Sejumlah langkah strategis ia bentangkan bagai peta jalan menuju kemandirian.

Percepatan pembentukan Cadangan Penyangga Energi menjadi salah satu titik krusial. Sebab tanpa cadangan memadai, keberlanjutan pasokan energi nasional akan terus bergantung pada dinamika pasar global.

Pemerintah, menurut Kholid, kini tengah juga mengkaji revisi Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2024.

Pintu partisipasi swasta dalam pembangunan infrastruktur penyimpanan energi mulai dibuka lebar. Ini isyarat bahwa negara tidak bisa bergerak sendiri.

Langkah lain tak kalah mendesak. Mengurangi impor bahan bakar minyak melalui peningkatan bauran biofuel.

Substitusi LPG secara bertahap. Reformasi subsidi energi agar tepat sasaran. Percepatan elektrifikasi kendaraan bermotor. Serta diversifikasi energi di sektor rumah tangga.

"Energi merupakan faktor kunci dalam pembangunan nasional. Energi tidak hanya menjadi pemungkin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga penopang utama aktivitas industri, transportasi, rumah tangga, hingga digitalisasi," tegas Kholid.

Ia juga menambahkan, "Seiring meningkatnya tingkat kemajuan suatu negara, kebutuhan dan intensitas konsumsi energi juga akan terus meningkat. Oleh karena itu, penyediaan energi andal, terjangkau, dan bersih menjadi prasyarat utama dalam proses transisi energi dari energi fosil menuju energi hijau."

Meneropong Masa Depan 

Di Ujung Khatulistiwa, Pontianak Menyalakan Asa Energi Bersih
Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, hadir membawa perspektif lokal. Ia memandang transisi energi bukan sekadar wacana futuristik.

Perubahan iklim sudah mengetuk pintu rumah kita hari ini. Tidak ada lagi ruang untuk menunda. Apalagi abai.

"Saat ini dunia tengah menghadapi tantangan perubahan iklim nyata. Kita tidak lagi bicara tentang masa depan jauh, melainkan tentang apa harus kita lakukan hari ini," kata Bahasan saat membuka seminar bertema Akselerasi Transisi Energi di Kalimantan Barat.

Kalimantan Barat, bagi Bahasan, adalah mozaik potensi energi terbarukan. Letaknya persis di garis khatulistiwa menjadikan provinsi ini kaya sinar surya sepanjang tahun.

Belum lagi potensi biomassa dari limbah perkebunan sawit melimpah. Serta energi air dari sungai sungai besar membelah daratan.

"Pemerintah Kota Pontianak terus mendorong efisiensi energi, mulai dari penggunaan lampu jalan hingga edukasi kepada masyarakat mengenai pola konsumsi energi lebih berkelanjutan," ucap Bahasan.

Namun ia sadar betul bahwa transisi energi bukan sekadar mengganti sumber energi. Ini perkara membangun ekosistem baru. Sebuah tatanan kehidupan kolektif lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

"Persoalan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada akselerasi dan kolaborasi antara regulator, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat," tegas Bahasan.

Ada satu hal menarik dari pemaparan Bahasan. Ia menyinggung potensi uranium di Kalimantan Barat. Sumber daya strategis itu, menurutnya, harus mulai dipikirkan pengelolaannya secara serius.

Bukan untuk dieksploitasi sembarangan, melainkan dikelola melalui kerja sama erat antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

"Jangan sampai kita hanya menjadi penonton. Perguruan tinggi bersama pemerintah daerah saya yakin bisa menyiapkan anak anak muda Kalimantan Barat agar nanti mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri," kata Bahasan penuh harap.

Asa Nurani Hijau

Pontianak Menyalakan Asa Energi Bersih
Dari mimbar akademik, Profesor Sukino menyuarakan dimensi lebih dalam dari transisi energi di muka bumi ini.

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat itu menempatkan isu energi dalam bingkai tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di muka bumi.

"Dalam Islam kita diajarkan untuk tidak melakukan kerusakan di muka bumi. Karena itu, transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan bukan sekadar urusan teknis, tetapi ikhtiar kita untuk menjaga alam," ujar Profesor Sukino.

Profesor Sukino menyebut energi hijau sebagai energi adil. Adil bagi generasi hari ini. Adil pula bagi generasi mendatang.

Sebab dengan beralih ke energi bersih, kita memberi jaminan bahwa anak cucu kelak masih bisa menghirup udara segar dan menikmati kekayaan alam Kalimantan Barat.

UNU Kalimantan Barat, menurut Profesor Sukino, berkomitmen menjadi ruang pengembangan intelektualitas modern. 

Namun tetap berpijak pada nilai nilai luhur bangsa dan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Riset-riset tentang energi terbarukan mulai diperkuat. Kolaborasi dengan berbagai pihak terus dijalin.

"Mari kita jadikan momentum ini sebagai energi baru untuk membesarkan UNU Kalbar sekaligus memperkuat kontribusinya bagi masyarakat," ajak Profesor Sukino.

Forum itu bukan milik segelintir elite. Ia adalah panggung kolaborasi sesungguhnya. Hadir sebagai narasumber, Rektor UNU Kalimantan Barat Profesor Sukino, Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Alfeus Sunarso, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Profesor Dwi Astiani, serta Pemeriksa Madya BPK Chairil Sutanto.

PT Pertamina sebagai perusahaan energi nasional turut mendukung penuh kegiatan ini. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa korporasi besar mulai melirik serius agenda transisi energi di daerah.

Dewan Energi Nasional melalui forum ini menegaskan satu hal penting arah kebijakan energi nasional tidak boleh berhenti pada tataran regulasi.

Ia harus diterjemahkan ke dalam inovasi dan implementasi nyata di daerah. Kalimantan Barat, dengan segala potensinya, adalah laboratorium alam raksasa.

Di sana ada sinar mentari melimpah. Ada biomassa dari jutaan hektare kebun sawit. Ada aliran sungai deras sepanjang musim.

Ada pula kandungan mineral strategis menunggu sentuhan teknologi. Namun semua potensi itu akan sia sia tanpa sumber daya manusia unggul.

Tanpa anak anak muda Kalimantan Barat paham teknologi energi terbarukan. Tanpa peneliti peneliti lokal melakukan riset mendalam tentang potensi daerah sendiri.

Seminar nasional itu mungkin hanya berlangsung sehari. Tetapi gagasan dilahirkan di sana akan terus bergulir.

Ia akan menjadi percakapan di ruang ruang kuliah. Menjadi diskusi di kedai kopi. Menjadi pertimbangan dalam rapat rapat pemerintahan.

Kota Pontianak telah menyalakan asa. Dari kota di garis khatulistiwa ini, sebuah pesan dikirimkan ke seluruh penjuru negeri.

Transisi energi tak bisa ditunda. Ia adalah jalan menuju kedaulatan energi Indonesia. Jalan menuju masa depan lebih hijau, lebih adil, dan lebih berkelanjutan.

Kolaborasi menjadi kata kunci. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Akademisi sebagai motor riset dan inovasi.

Sektor swasta sebagai penyedia modal dan teknologi. Serta masyarakat sebagai pelaku utama perubahan di tingkat akar rumput.

Semua pihak harus duduk bersama. Saling mendengar. Saling mengisi. Sebab urusan energi adalah urusan peradaban.

Ia menyangkut hajat hidup orang banyak. Menyangkut kelangsungan industri dan transportasi. Menyangkut listrik di rumah rumah kita.

Dan pada akhirnya, kalau perkara soal menyangkut warisan seperti apa akan kita titipkan kepada anak cucu.

Kalimantan Barat berdiri di persimpangan sejarah. Ia bisa memilih tetap bergantung pada energi fosil menipis.

Atau mulai melangkah pasti menuju kemandirian energi berbasis potensi lokal. Pilihan ada di tangan kita semua.

Hari itu, di Hotel Golden Tulip Pontianak, langkah pertama telah diayunkan. Seminar nasional itu adalah deklarasi bersama bahwa Kalimantan Barat siap menjadi bagian dari perubahan besar.

Perubahan menuju Indonesia lebih hijau, lebih bersih, dan lebih berdaulat secara energi tanpa henti-henti.

Formulir Kontak