Merah Putih di Desa: Gerakan Sunyi dari Tanah Kalbar Nyalakan Harapan Rakyat - Kalimantannews.id

Merah Putih di Desa: Gerakan Sunyi dari Tanah Kalbar Nyalakan Harapan Rakyat

Merah Putih di Desa: Gerakan Sunyi dari Tanah Kalbar Nyalakan Harapan Rakyat
Koperasi Merah Putih Kalbar jadi gerakan senyap membangun ekonomi rakyat desa dengan semangat kebersamaan dan harapan baru.
Kalimantannews.id, Kota Pontianak - Suara langkah pelan memenuhi Ruang Teater Universitas Tanjungpura, Pontianak.  Pagi itu, Senin (3/11/2025), udara terasa lebih hangat dari biasanya.

Di balik suasana formal acara pembukaan, ada getar semangat yang pelan-pelan hidup di dada ratusan orang para pendamping Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih dari seluruh Kalimantan Barat.

Di hadapan mereka, Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson, berdiri tegas namun tenang. Ia bukan sekadar pejabat pembuka acara.

Ia hadir sebagai saksi lahirnya babak baru ekonomi kerakyatan sebuah gerakan sosial-ekonomi menyatukan gotong royong dengan kemandirian warga desa.

“Program KDKMP ini adalah upaya memperkuat ekonomi rakyat melalui koperasi yang tumbuh dari bawah dan untuk masyarakat,” tutur Harisson membuka sambutannya, disambut tepuk tangan pelan tapi bermakna.

Program ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang percepatan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih inisiatif nasional yang hendak menumbuhkan kembali denyut ekonomi desa, dari tanah, dari tangan, dan dari rakyat sendiri.

Di Kalimantan Barat, semangat itu telah menjelma nyata. Sebanyak 2.143 koperasi Merah Putih kini berdiri.

Setiap koperasi adalah cermin kecil dari cita-cita besar: menghadirkan kemandirian ekonomi yang adil dan berkeadilan sosial.

Namun, seperti diakui Harisson, perjalanan ini tak semudah menanam padi di tanah subur.

“Masih banyak tantangan,” katanya pelan. “Pemerataan akses, infrastruktur, dan konektivitas digital belum merata. Tapi kami percaya, kemandirian akan lahir dari ketekunan”.

Kalimat itu menegaskan satu hal koperasi bukan hanya alat ekonomi, tapi gerakan sosial.

Di dalamnya ada denyut hati warga desa, yang berusaha hidup di antara derasnya arus globalisasi dan jurang ketimpangan.

Pendamping Tumbuh Tangguh

Pelatihan yang digelar kali ini bukan yang pertama. Angkatan ketiga ini mengumpulkan 178 peserta, dan jika dihitung sejak awal, sudah ada 543 pendamping dan Project Management Officer (PMO) dilatih.

Mereka bukan birokrat. Mereka adalah pendengar setia keluhan warga, penerjemah harapan kecil di desa, dan penggerak dari balik layar.

Harisson menyebut mereka sebagai “roh dari koperasi Merah Putih.”

“Kami berharap pendamping tidak hanya kuat secara teknis, tapi juga punya kepekaan sosial, semangat pengabdian, dan integritas. Jadilah pendamping tangguh dan inovatif agar koperasi benar-benar jadi solusi ekonomi rakyat,” tutur Harisson.

Di sela-sela sesi pelatihan, seorang peserta dari Ketapang, Siti Nuraini, bercerita lirih.

“Kami di lapangan tidak hanya mendampingi pembukuan. Kami mendengarkan keluh kesah ibu-ibu, membantu mereka memasarkan hasil olahan pisang, dan meyakinkan mereka bahwa koperasi ini milik kita bersama,” ucapnya sambil tersenyum.

Dalam pelatihan itu, para pendamping belajar tentang manajemen koperasi, penyusunan proposal bisnis, hingga literasi digital. Mereka dilatih bukan hanya untuk mengajar, tapi untuk menyalakan keyakinan.

Harisson menambahkan, pemerintah Kalbar sedang menyiapkan lahan minimal 1.000 meter persegi di setiap desa dan kelurahan untuk pembangunan Gedung Koperasi Merah Putih.

Lahan itu bisa berasal dari aset desa atau daerah yang tak terpakai.

“Gedung ini nanti bukan hanya tempat rapat atau penyimpanan dokumen. Ia akan jadi pusat kegiatan ekonomi desa. Nantinya, Agrinas PT Agro Industri Nasional akan membangun gedung itu dan membantu menyalurkan peralatan kerja,” ujarnya.

Bagi banyak warga desa, gedung itu akan menjadi simbol. Tempat di mana ide, gotong royong, dan asa bersatu dalam bentuk yang nyata. Sebuah rumah ekonomi rakyat.

Asa yang Menyala

Dari ruang teater itu, suara Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop UKM RI, Wisnu Gunadi, terdengar melalui layar besar. Ia berbicara dari Jakarta, namun suaranya menembus batas jarak.

“Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sudah memasuki tahap penting,” katanya. “Setelah diresmikan Presiden pada Juli lalu di Klaten, dengan terbentuknya lebih dari 80 ribu koperasi di seluruh Indonesia, kini fokus kita adalah memastikan mereka benar-benar mandiri.”

Wisnu menegaskan, pendamping dan PMO adalah ujung tombak dari keberhasilan program nasional ini.

“Mereka harus mampu membantu koperasi menyusun rencana bisnis, mengelola usaha, memperkuat jejaring ekonomi lokal, dan memastikan koperasi bisa beroperasi profesional,” ujarnya tegas.

Ia tak sedang memberi instruksi kaku. Kalimat-kalimatnya seperti doa bagi ratusan peserta hadir  agar mereka pulang membawa api semangat, bukan sekadar sertifikat pelatihan.

Dalam sesi virtual itu, Wisnu juga menegaskan pentingnya pendamping yang berdedikasi tinggi dan berkualitas.

“Kita ingin pendamping yang dilatih hari ini menjadi ujung tombak pembangunan ekonomi rakyat di daerahnya. Dengan kemampuan dan semangat pengabdian, mereka bisa membantu koperasi tumbuh mandiri dan memberi manfaat nyata,” katanya.

Di akhir sesi, layar menampilkan wajah para peserta yang beragam: dari Sambas, Landak, Kapuas Hulu, hingga Ketapang. Mereka bukan sosok populer di media. Namun, di tangan mereka, nasib ekonomi rakyat dititipkan.

Koperasi Sebagai Rumah Sosial Baru

Dari Pontianak hingga pelosok pedalaman Kalbar, program ini seolah menanam bibit baru di tanah lama tanah gotong royong yang sempat kering oleh zaman. 

Koperasi Merah Putih kini menjadi wajah baru dari ekonomi rakyat, di tengah dunia semakin sibuk mengejar digitalisasi tanpa arah.

Gerakan ini tak berhenti pada angka atau data. Ia menyentuh hal yang lebih dalam dignity martabat manusia desa ingin berdiri di atas kakinya sendiri.

Bagi Harisson dan jajaran Pemprov Kalbar, koperasi bukan hanya entitas ekonomi.  Ia adalah gerakan kebersamaan yang mengembalikan manusia pada fitrahnya bekerja, berbagi, dan berdaya bersama.

Di balik layar, para pendamping, PMO, serta ribuan warga desa menjadi tokoh-tokoh kecil dari kisah besar ini.

Kisah tentang bagaimana bangsa ini belajar kembali percaya kepada dirinya sendiri.

Gerakan Koperasi Merah Putih mungkin tak sepopuler program pembangunan lain yang gemerlap di media nasional.

Tapi dari ruang-ruang sederhana seperti ini, ekonomi rakyat menemukan bentuk baru.

Pemerintah, pendamping, dan warga desa kini berdiri di garis yang sama bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi sebagai sesama pejuang.

Dari tanah Kalimantan Barat, mereka menulis kisah tentang merdeka dalam kemandirian ekonomi, tentang merah putih yang hidup dalam tindakan, bukan sekadar simbol bendera.

Dari setiap koperasi yang berdiri, dari setiap rapat kecil di balai desa, harapan itu terus menyala tanp hentinya.

Bukan api besar yang membakar, tapi bara kecil yang hangat cukup untuk menjaga rumah besar bernama Indonesia.

Formulir Kontak