Kalimantannews.id, Inggris - Di tengah deru kota Rio de Janeiro yang berdebu dan berangin asin, sejarah kecil tapi bermakna ditulis dalam senyap.
Di sebuah ruang konferensi yang temaram namun hangat, dua tangan berbeda bangsa saling berjabatan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dan Amanda Berry CBE dari The Royal Foundation of The Prince and Princess of Wales.
Di balik sapaan diplomatis itu, tersimpan makna besar: bumi sedang sekarat, dan manusia mencoba memperbaikinya bersama.
Kesepakatan yang terbingkai dalam Letter of Intent itu bukan sekadar dokumen tinta basah. Ia adalah janji moral antarbangsa, satu kompas menuju arah baru dalam melindungi kehidupan.
Indonesia dan Inggris, dua negara yang disatukan oleh laut dan sejarah panjang kolonial, kini memilih berpihak pada alam.
Mereka sepakat memperkuat konservasi keanekaragaman hayati dan memberantas kejahatan lingkungan lintas batas dari perdagangan satwa liar hingga pembalakan liar yang tak mengenal batas moral.
Menteri Hanif menyuarakan tekadnya dengan nada getir tapi teguh, “Dukungan The Royal Foundation memperkuat kemampuan kami melindungi keanekaragaman hayati luar biasa Indonesia dan menindak kejahatan lingkungan.”
Kata-kata itu seperti getar tanah tropis yang berusaha bertahan dari luka-luka industri.
“Penandatanganan ini bukan sekadar dokumen, tetapi komitmen bersama untuk menjaga warisan alam bagi generasi mendatang,” lanjutnya, menatap masa depan yang tak pasti tapi perlu diperjuangkan.
Asa Bumi Terluka
Amanda Berry CBE, perempuan dengan sorot mata penuh empati itu, berbicara lembut namun tegas.
“Kemitraan ini mencerminkan keyakinan kami bahwa perlindungan alam menuntut tindakan global yang bersatu.”
Ucapannya seolah menembus ruang waktu, mengingatkan bahwa tak ada batas geografis bagi penderitaan planet ini.
Ia menegaskan, Indonesia rumah bagi hutan hujan tropis dan laut kaya biota punya peran penting dalam menjaga nadi kehidupan dunia.
Kerja sama ini melangkah lebih dari sekadar seremoni diplomasi. Di baliknya ada rencana besar menggerakkan peran dunia usaha dan lembaga keuangan untuk ikut menjaga bumi, memperkuat penegakan hukum lingkungan, serta membangun koordinasi regional yang kokoh.
Tak lagi cukup hanya menanam pohon di depan kamera, tapi harus menanam kesadaran di dada manusia.
Dalam pertemuan pribadi yang jarang terjadi, Hanif bersama Hashim S Djojohadikusumo mewakili Presiden Prabowo Subianto menemui Pangeran William.
Mereka membawa salam dan penghargaan dari Jakarta, menyampaikan rasa hormat kepada Inggris yang tetap peduli pada kemanusiaan dan lingkungan.
“Kami menyambut baik semangat dan visi Yang Mulia Pangeran William. Bersama, kita ingin mewujudkan dunia yang lebih aman, adil, dan berkelanjutan,” ujar Hanif, nada suaranya seperti doa yang melintasi benua.
Pangeran William pun menanggapi dengan ketulusan khas bangsawan yang memahami tanggung jawab sejarahnya.
Ia menilai komitmen Indonesia bukan sekadar retorika, tapi tindakan nyata yang patut diapresiasi.
“Indonesia memiliki peran strategis dalam memperkuat aksi global bagi keberlanjutan lingkungan dan pelestarian keanekaragaman hayati,” tuturnya.
Kalimat itu mengalun seperti pujian, tapi juga pengingat tanggung jawab besar kini telah digenggam bersama.
Ikrar Janji Lestari
Pertemuan itu tak berdiri sendiri. Rio de Janeiro kota yang pernah melahirkan Earth Summit 1992 kembali jadi saksi sejarah lewat Deklarasi Rio 2025.
Para pemimpin dunia, menteri lingkungan, dan lembaga global bersepakat memperkuat aksi kolektif melawan kejahatan lingkungan.
Isu yang dulu dianggap sampingan kini menjadi urusan hidup mati peradaban pembalakan liar, penambangan ilegal, perdagangan satwa, hingga aliran uang gelap yang menggerogoti akar hutan dan nurani manusia.
“Deklarasi Rio 2025 menjadi momentum global untuk menegaskan bahwa perlindungan lingkungan bukan sekadar isu nasional, melainkan tanggung jawab kolektif dunia,” tegas Hanif dalam pidatonya yang menggema di ruang besar penuh bendera.
Ia melanjutkan, “Ini bukan sekadar kerja sama antar-lembaga, tetapi komitmen moral antarbangsa untuk mewariskan bumi yang lebih lestari bagi generasi yang akan datang.”
Kata-kata itu menutup pertemuan dengan nada lirih tapi penuh makna. Seakan bumi sendiri ikut berdesah lega, setidaknya ada manusia yang masih peduli pada napasnya.
Kini, setelah tinta kering dan jabat tangan berakhir, pekerjaan sejati baru dimulai.
Indonesia, negeri dengan paru-paru dunia di Kalimantan dan jantung laut di Raja Ampat, memikul tanggung jawab besar.
Kerja sama dengan The Royal Foundation bukan akhir dari upaya, tapi awal perjalanan panjang menjaga bumi dari kerakusan manusia sendiri.
Hanif mungkin sadar, tugas ini tak bisa diselesaikan oleh kebijakan semata. Ia butuh generasi yang sadar bahwa menanam satu pohon bisa jadi bentuk cinta paling jujur.
Ia butuh dunia yang berhenti menukar masa depan dengan keuntungan sesaat. Dan di tengah segala kegaduhan politik global, mungkin hanya alam yang tahu, siapa benar-benar peduli padanya.
Ini bukan sekadar laporan kerja sama antarnegara. Ia adalah kisah tentang nurani yang mencoba menebus dosa kolektif terhadap bumi.
Tentang seorang menteri yang berbicara bukan atas nama negara, tapi atas nama kehidupan. Tentang pangeran yang turun dari istananya demi bumi yang sama-sama mereka pijak.
Mungkin, di sela rimbunnya hutan Kalimantan, di antara teriakan sunyi orangutan yang kehilangan rumahnya, ada harapan kecil yang tumbuh.
Bahwa diplomasi bisa berwujud empati. Bahwa politik bisa menjadi puisi, ketika ia bicara tentang bumi yang sedang menua tapi masih ingin hidup.
