Meniti Cahaya Emas: Windy Prihastari dan Para Calon Pemimpin di Jantung Pulau Kalimantan - Kalimantannews.id

Meniti Cahaya Emas: Windy Prihastari dan Para Calon Pemimpin di Jantung Pulau Kalimantan

Meniti Cahaya Emas: Windy Prihastari dan Para Calon Pemimpin di Jantung Pulau Kalimantan
Meniti Cahaya Emas: Windy Prihastari dan Para Calon Pemimpin di Jantung Pulau Kalimantan
Siapkan Diri, Bukan Sekadar Menunggu

Kalimantannews.id, Pontianak - Di sebuah pagi cerah di Kampus IPDN Regional Kalimantan Barat, ratusan Praja duduk bersila di atas rumput hijau masih basah oleh embun.

Mereka datang dari berbagai penjuru Nusantara, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Papua, namun menyatu dalam satu semangat menjadi bagian dari generasi emas Indonesia 2045.

Di tengah mereka, berdiri seorang perempuan berseragam khaki, suaranya tegas namun hangat, Windy Prihastari.

Dengan suara yang bergetar penuh keyakinan, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Kalimantan Barat itu memandangi satu per satu mata berbinar di hadapannya, seolah menyimpan seluruh doa sebuah bangsa.

"Setiap dari kalian," bisiknya lirih namun menggema, "adalah tunas pemimpin yang akan membawa Indonesia pada masa gemilang."

Dia pun melanjutkan, dengan setiap kata terasa seperti cambukan sekaligus belaian, "Bersiaplah. Karena tantangan terberat bukan hanya soal seberapa tinggi gelar kalian raih, tetapi seberapa kuat hati kalian bertahan, seberapa sehat jiwa dan raga kalian berdiri tegak di tengah badai zaman."
 
Jadilah bijak, bukan hanya pintar. Jadilah manusia utuh, bukan hanya angka di atas kertas putih saja, tapi benar-benar nyata

Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia bicara dari pengalaman. Sebagai Purna Praja STPDN Angkatan 09, Windy Prihastari tahu betul betapa proses pembentukan karakter dimulai dari hal-hal kecil. 

Bangun pagi, disiplin waktu, makan bergizi, dan menjaga kesehatan mental. Dan kini, sebagai Kepala Disporapar Kalbar, ia membawa misi itu ke level lebih luas, nasional.

Acara bertajuk “Gema Emas 2045: Siapkan Pemimpin Hebat” bukan sekadar seminar motivasi biasa-biasa saja.

Ini adalah panggilan kolektif. Sebuah undangan untuk tidak hanya bermimpi, tapi membangun fondasi mimpi itu dengan tubuh yang sehat, pikiran jernih, dan jiwa tangguh hadapi dunia digitalisasi ini.

Sehat Itu Investasi, Bukan Pilihan

Di era di mana informasi menyebar lebih cepat dari denyut nadi, generasi muda justru rentan terjebak dalam krisis kesehatan tersembunyi stres akut, pola makan buruk, kurang tidur, dan isolasi sosial.

Padahal, sehat bukan sekadar tidak sakit. Sehat adalah modal utama untuk berpikir kritis, memimpin dengan empati, dan bertindak dengan integritas.

Windy Prihastari memahami itu. Maka, ia tak hanya bicara. Ia bertindak. Bersama tiga dokter hebat dr. Yosie Anra (spesialis kedokteran vaskular), dr. Mira Delima Asikin (spesialis penyakit dalam), dan dr. Rina Nulianti (spesialis kebidanan dan reproduksi) ia menghadirkan edukasi kesehatan relevan dengan realitas anak muda hari ini.

“Kami ingin edukasi kesehatan dikemas kreatif agar lebih dekat dengan dunia anak muda,” ujar Windy Prihastari.

“Karena itu, kami hadirkan dalam bentuk film, jingle, dan senam yang bisa diikuti bersama oleh semua kalangan,” Windy Prihastari menjelaskan.

Hasilnya? Lahir Langkah Kedua, sebuah film edukatif menyentuh isu kesehatan mental dan fisik tanpa menggurui.

Ada pula Senam Segarasa, inovasi gerakan ringan yang menggabungkan unsur seni, olahraga, dan kearifan lokal. 

Bahkan, Kemenpora dan Korminas memberikan apresiasi tinggi bukti bahwa pendekatan ini bukan hanya lokal, tapi layak jadi rujukan nasional.

Lebih dari itu, Disporapar Kalbar merilis buku panduan kesehatan fisik dan mental bisa diakses gratis melalui QR code di Instagram @disporapar.

Tak berhenti di situ, mereka tengah mengembangkan aplikasi digital untuk skrining kesehatan pemuda dilengkapi rekomendasi pola hidup sehat berbasis usia dan gender.

Ini bukan sekadar program. Ini adalah ekosistem.

Pemimpin Hebat Lahir dari Disiplin Harian

Salah satu hal yang paling menyentuh dalam acara itu adalah ketika Windy Prihastari berbicara tentang disiplin.

Bukan disiplin ala militer yang kaku, tapi disiplin sebagai bentuk cinta pada diri sendiri dan bangsa.

“Pemimpin hebat lahir dari proses panjang,” kata Windy Prihastari. “Disiplin, mental kuat, dan tubuh yang sehat adalah fondasi menuju generasi emas.”

Kalimat itu menggema di telinga para Praja.Di bawah langit yang masih gelap, mereka telah bangkit. Pukul empat pagi, ketika kota masih terlelap, langkah-langkah kecil itu mulai bergema.

Lari pagi yang menyapa fajar, latihan baris-berbaris yang menempa disiplin, dan pelajaran teori kepemimpinan yang menyalakan api dalam jiwa.

Mereka tahu, dalam diam dan lelah, bahwa kehebatan tidak turun bagai hujan. Tapi ia tumbuh pelan, seperti sungai yang mengukir batuan setiap tetes keringat.

Setiap langkah teratur, setiap pilihan untuk tetap berdiri ketika tubuh ingin rebah.

Kehebatan adalah anak kandung dari kesetiaan pada rutinitas, dari keberanian untuk konsisten dalam hal-hal kecil yang tak terlihat mata dunia.

Di sinilah letak kekuatan acara ini ia tidak memisahkan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Ia menyatukannya dalam satu visi utuh, bahwa pemimpin masa depan harus utuh secara holistik.

Windy Prihastari juga menekankan pentingnya Hari Sumpah Pemuda ke-97 bukan hanya sebagai momen nostalgia, tapi sebagai momentum untuk bertindak.

“Maknai Sumpah Pemuda bukan dengan kata-kata, tapi dengan aksi nyata,” ujarnya. “Kolaborasi, inovasi, dan kepemimpinan harus jadi DNA generasi muda.”

Dari Kalimantan Barat untuk Indonesia

Yang menarik, inisiatif Windy Prihastari tak berhenti di Kalimantan Barat.  Kemenpora RI memberinya panggung nasional untuk membagikan model ini ke seluruh Dinas Kepemudaan dan Olahraga di Indonesia.

Ini adalah bentuk pengakuan bahwa pendekatan extrahelix collaboration melibatkan pemerintah, akademisi, praktisi kesehatan, komunitas, dan sektor swasta bisa menjadi blueprint bagi pembangunan pemuda berkelanjutan.

“Anak muda sangat akrab dengan media sosial,” kata Windy Prihastari menutup sesi. 

“Kami ingin mereka menjadi agen perubahan yang menyebarkan informasi edukatif, bukan hoaks. Karena sejatinya, pemuda punya potensi besar untuk membawa perubahan nyata bagi bangsa,” ucap Windy Prihastari.

Kalimat itu bukan sekadar harapan. Ia adalah tantangan. Tantangan bagi setiap Praja IPDN, setiap mahasiswa, setiap remaja di pelosok Nusantara jangan hanya menunggu 2045 datang. Bangunlah ia, hari ini.

Dengan tubuh yang sehat. Dengan pikiran yang jernih. Dengan jiwa yang tak kenal lelah setiap harinya itu.

Karena Gema Emas 2045 bukanlah takdir. Ia adalah pilihan dan pilihan itu dimulai dari langkah pertama yang berani.

Di bawah langit Pulau Kalimantan bagian barat yang biru, ratusan Praja berdiri serentak. Mereka tak hanya mendengar. Mereka tersentuh. 

Dari sentuhan itu, lahir tekad menjadi bagian dari sejarah bukan penonton, tapi pelaku utama jadi aktor paling depan.

Menuju Indonesia Emas, dengan langkah sehat, jiwa kuat, dan hati yang percaya diri, bukan cuma nyinyir.

Formulir Kontak