Di halaman kecil Klinik Pratama Polres Kapuas Hulu, langkah-langkah sederhana para personel kepolisian berpadu dengan senyum yang tenang.
Satlantas Polres Kapuas Hulu, bersama jajaran Intelkam, Sihumas, Bag Ren, bahkan para purnawirawan Polri, berkumpul bukan untuk apel seremonial.
Ini melainkan untuk sebuah kegiatan yang lebih intim bakti kesehatan donor darah dan cek kesehatan, menyambut Hari Ulang Tahun Lalu Lintas Bhayangkara ke-70.
Bukan hanya sekadar rutinitas, momen itu menjadi jembatan rasa. Di balik meja sederhana tempat kantong-kantong darah tersusun rapi, ada semangat kepedulian yang berdenyut.
Para personel datang bukan hanya membawa seragam, tetapi juga membawa sebagian dari dirinya—darah, tenaga, dan rasa kemanusiaan.
“Bakti kesehatan ini bukan sekadar menjaga raga para personel, melainkan juga menyalakan harapan hidup bagi sesama lewat setetes darah yang rela dibagi,” ucap Kasat Lantas Polres Kapuas Hulu, AKP Cahya Purnawan dengan suara yang sarat makna.
Kalimat itu mungkin sederhana, namun sesungguhnya ia adalah cermin polisi bukan hanya pengatur arus kendaraan di jalan raya, melainkan penjaga aliran kasih dalam jalan panjang kemanusiaan.
Daya Denyut Sehat
Kegiatan dimulai sejak pukul delapan pagi. Satu per satu peserta duduk tenang, lengan kiri atau kanan digulung, jarum kecil menembus kulit, lalu darah mengalir ke kantong plastik bening.
Ada rasa ngeri bagi sebagian orang, ada pula rasa lega bagi yang sudah terbiasa.
Namun bagi penerimanya nanti orang-orang tak dikenal yang mungkin sedang berjuang di rumah sakit darah itu adalah hidup.
Selain donor darah, tersedia juga pemeriksaan hemoglobin, pengecekan tensi, hingga perawatan gigi sederhana. Tidak ada yang mewah. Namun dalam kesederhanaan itulah justru lahir sebuah makna.
Kapuas Hulu, dengan hutan yang membentang jauh dan desa-desa yang kerap terisolasi, tahu betul arti keterbatasan ketika sakit datang tanpa permisi.
Di tengah jarak rumah sakit yang begitu jauh dan akses kesehatan yang tak selalu mudah dijangkau, hadirnya bakti kesehatan ini bagai oase di padang panjang perjalanan hidup.
Bakti itu bukan sekadar menambal luka fisik, melainkan juga menenangkan jiwa—menghadirkan rasa aman bahwa ada tangan yang siap merangkul.
Polisi, yang kerap dipandang tegas dan dingin dalam seragamnya, seketika menjelma sahabat menjaga, mendengar, dan menguatkan warganya dengan tulus, setulus setetes darah yang rela dibagi untuk kehidupan orang lain.
Bagi para purnawirawan Polri yang hadir, kegiatan ini bagai nostalgia. Mereka tidak lagi bertugas di jalan raya, tetapi dalam acara semacam ini, mereka kembali merasakan semangat kebersamaan yang dulu menemani masa aktif.
Ada cerita yang saling ditukar, ada tawa yang mengisi sela-sela pemeriksaan tensi, dan ada rasa syukur karena di usia yang menua, masih ada ruang untuk peduli.
Kala Harmoni Bhayangkara
Tujuh puluh tahun usia Lalu Lintas Bhayangkara bukan angka kecil. Dalam rentang itu, banyak generasi polisi lalu lintas silih berganti, banyak jalan raya berubah rupa, banyak kecelakaan dihindari, dan tak sedikit pula air mata duka yang ditangisi.
Di tengah segala dinamika itu, hadirnya bakti kesehatan ini menjadi pengingat bahwa polisi tidak melulu tentang aturan, tetapi juga tentang rasa kemanusiaan.
Momentum ulang tahun ini, sebagaimana ditegaskan AKP Cahya Purnawan, adalah semangat untuk terus melayani masyarakat.
Tidak hanya dalam urusan jalan raya yang macet, tidak sekadar menilang atau mengatur lampu merah, melainkan juga hadir di ranah sosial kesehatan, kemanusiaan, bahkan keakraban.
Di balik seragam cokelat dan rompi hijau neon itu, ada manusia yang sama-sama berdetak, sama-sama lelah, sama-sama ingin sehat.
Lewat donor darah, lewat pembersihan gigi, lewat cek tensi yang sederhana, semua sekat itu runtuh. Polisi dan masyarakat kembali berdiri di garis yang sama garis kemanusiaan.
Melayang di Balik Kegiatan
Jika direnungkan lebih dalam, bakti kesehatan ini bukan sekadar rangkaian acara, melainkan cermin jiwa Polantas yang berusaha hadir bagi warganya.
Ia memantulkan wajah Kapuas Hulu sebuah tanah pedalaman di Kalimantan Barat yang dipeluk hutan hujan, dijaga sungai-sungai panjang, dan ditempa jalan berliku yang tak selalu ramah.
Di sanalah hidup masyarakat yang sederhana, yang bertahan dengan kearifan lokal dan saling menopang dalam solidaritas.
Ketika polisi datang dengan niat tulus membawa layanan kesehatan, seakan hadir cahaya kecil yang memantul di tengah rimba mengingatkan bahwa meski jauh dari pusat kekuasaan, Kapuas Hulu tak pernah jauh dari denyut kemanusiaan.
Di sinilah, di tengah sederhana acara donor darah, kita bisa belajar arti kebersamaan yang tulus.
Ada yang menyumbangkan darahnya, ada yang hanya memeriksa tekanan darah, ada yang datang sekadar menemani.
Namun semuanya sama hadir, peduli, dan terikat oleh satu misi merayakan ulang tahun Polantas dengan cara yang menyentuh hati.
Pesan yang Tersisa
Apa yang bisa dipetik dari kegiatan semacam ini? Mungkin tidak langsung terasa.
Kantong-kantong darah itu baru akan berguna saat seorang pasien kecelakaan jalan raya membutuhkan transfusi.
Pemeriksaan gigi sederhana itu mungkin baru terasa manfaatnya beberapa bulan ke depan ketika seseorang terhindar dari nyeri gusi.
Namun makna terbesarnya bukan hanya pada hasil medisnya, melainkan pada kesadaran bahwa kepolisian bisa hadir dengan wajah yang lebih lembut, lebih manusiawi.
Kegiatan ini adalah pesan sunyi bahwa ulang tahun bukan sekadar potong tumpeng dan tiup lilin, tetapi tentang menanamkan nilai.
Bahwa tujuh puluh tahun bukan hanya perayaan angka, tetapi perayaan rasa.
Kapuas Hulu telah memberi contoh merayakan ulang tahun polisi lalu lintas dengan donor darah, dengan cek kesehatan, dengan senyum yang mendayu-dayu.
Dan siapa tahu, dari darah yang menetes di klinik sederhana itu, ada kehidupan terselamatkan sebuah hadiah ulang tahun paling indah bagi Bhayangkara Lalu Lintas.
