iPhone 17 Disorot Layar Mahal Banget, Nilai Murah, dan Ego Apple Redup - Kalimantannews.id

iPhone 17 Disorot Layar Mahal Banget, Nilai Murah, dan Ego Apple Redup

iPhone 17 Disorot Layar Mahal Banget, Nilai Murah, dan Ego Apple Redup
iPhone 17, Air, dan Pro Max gagal bersinar di DxOMark. Layar megah tapi nilai anjlok, menandai krisis ego Apple di era Pixel.
Kalimantannews.id, Pulau Kalimantan - Apple iPhone 17 datang dengan kesombongan khas Cupertino.

Namun, hasilnya ironis. Dalam uji DxOMark, seri megah ini terpental. Tak ada satu pun dari trinitas mahal ini yang masuk 20 besar.

Apple menjanjikan layar LTPO OLED 120 Hz, kecerahan 1.600 nits, dan puncak HDR 3.000 nits yang terdengar seperti mantra teknologi.

Tapi nyatanya, mantra itu tak cukup menyihir mata para penguji. Layar yang seharusnya jadi mahakarya justru jadi cermin krisis perfeksionisme.

Kualitas warna memang akurat, tapi tak cukup mengguncang meja laboratorium. DxOMark menilai, semua seri iPhone 17 serupa mahal rasa biasa saja.

Refleksi Tak Terbaca

Keunggulan iPhone 17 hanyalah pantulan ego yang dipoles. Pantulan itu memang berkurang, berkat lapisan kaca anti silau anyar.

Namun, Apple lupa silau bukan hanya di layar, tapi juga di reputasi. DxOMark menilai warna tetap stabil meski cahaya menantang.

Sayangnya, kontrasnya jeblok di titik terendah hanya 1 nit. Layar tampak redup di ruangan gelap, seolah kehilangan gairah cahaya.

Video pun tenggelam dalam gelap, terlalu muram untuk harga sekian juta. Apple tampak ingin elegan, tapi malah kehilangan kedalaman visual.

Dalam bahasa konsumen “indah di etalase, suram di genggaman.”

Respons Setengah Jiwa


Respons sentuhnya cepat 35 milidetik, dua kali lebih lincah dari Galaxy S25. Namun, kecepatan itu tak bisa menutupi rasa kaku antarmukanya.

Layarnya sensitif, tapi pengalaman emosionalnya terasa beku dan mekanis. PWM 480 Hz memang membuat mata tak cepat lelah.

Tapi hati pengguna tetap letih menatap skor DxOMark yang menyakitkan. 151 poin, posisi ke-25—Apple turun takhta dari langit kesempurnaan.

Pixel 10 Pro XL, Samsung Galaxy S25 Ultra, hingga Edge tertawa sopan. Mereka unggul dalam detail, warna, dan visi masa depan tampilan.

Apple, sebaliknya, terjebak dalam nostalgia teknologi yang tak lagi memesona.

Trinitas Mahal Tak Sakral

iPhone 17, iPhone Air, dan iPhone 17 Pro Max hadir dengan harga tak santai. Namun performa layarnya seragam dan sayangnya, biasa saja.

Apple gagal memberi pembeda yang rasional antara kelasnya sendiri. Konsumen pun bertanya, untuk apa membeli Pro Max yang lebih mahal?

Jika tampilannya sama dengan iPhone Air yang lebih ringan di dompet. Pertanyaan ini bergema di forum teknologi dan ruang diskusi para pengulas.

DxOMark menyindir halus, tapi jelas: Apple harus belajar rendah hati. Mereka yang dulu mendefinisikan “perfect display” kini hanya nostalgia.

Sementara Google dan Samsung melangkah cepat dengan warna yang hidup.

Estetika Terlalu Dini

Kecerahan memang tinggi, tapi estetika Apple tampak terjebak di masa lalu. Desain visualnya tak lagi membius, hanya memantulkan kesombongan klasik.

Apple lupa bahwa mata manusia butuh rasa, bukan sekadar saturasi. Trinitas iPhone 17 adalah kisah tentang kemegahan yang kehilangan arah.

Tentang layar yang bersinar tapi kehilangan makna di balik sinarnya. Tentang merek yang dulu memimpin, kini sibuk mengejar bayang kejayaan.

Harga yang digadang jadi simbol kemewahan kini terasa seperti beban. Konsumen mulai cerdas: mereka tak ingin membeli gengsi tanpa performa.

Pixel dan Galaxy kini lebih menggoda dengan rasionalitas harga dan hasil. Apple, dalam diamnya, mungkin masih percaya pada kultus keindahan.

Tapi DxOMark telah membongkar rahasia: keindahan kini bisa diukur. Dalam pengukuran itu, Apple jatuh bukan karena gagal, tapi lalai.

Mungkin Apple butuh cermin baru, bukan hanya kaca anti silau. Cermin untuk menatap kenyataan bahwa kesempurnaan bukan warisan abadi.

Konsumen kini haus kejujuran, bukan kilau berlapis branding berlebihan. iPhone 17 dan saudaranya jadi pelajaran mahal tentang kesadaran diri.

Bahwa cahaya sejati tak datang dari layar, tapi dari inovasi yang tulus. Mungkin, untuk pertama kalinya, Apple harus belajar dari Pixel.

Formulir Kontak