Asa Gubernur Khofifah Rasa Syukur di Tanah Nganjuk, Hidup Rumah Harapan Baru - Kalimantannews.id

Asa Gubernur Khofifah Rasa Syukur di Tanah Nganjuk, Hidup Rumah Harapan Baru

Asa Gubernur Khofifah Rasa Syukur di Tanah Nganjuk, Hidup Rumah Harapan Baru
Gubernur Khofifah meninjau rampungnya 158 rumah Rutilahu di Nganjuk Jawa Timur memberi harapan baru bagi warga yang lama hidup di rumah reyot.
Kalimantannews.id, Nganjuk - Pagi di Desa Pace Kulon Kabupaten Nganjuk Jawa Timur terasa berbeda bagi Suyitno dan Mujiati.

Tak lagi ada bocoran air hujan yang menetes di pojok kamar, tak ada lagi lantai tanah yang becek saat musim hujan tiba.

Di hadapan rumah mungil berwarna krem muda itu, terpampang senyum lebar lama tersimpan senyum seseorang akhirnya bisa bernapas lega di bawah atap layak.

Program Rumah Tinggal Layak Huni (Rutilahu) dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Kodam V/Brawijaya telah mengubah hidup mereka.
Gubernur Khofifah meninjau rampungnya 158 rumah Rutilahu di Nganjuk Jawa Timur memberi harapan baru bagi warga yang lama hidup di rumah reyot.
Dari rumah reyot jadi rumah yang benar-benar pantas disebut “tempat pulang”.

Bagi Suyitno, penjual kue keliling hidup dari penghasilan harian tak menentu, bantuan ini bukan sekadar bangunan baru tapi sebuah babak hidup diperbaiki.

“Saya tidak menyangka dapat bantuan Rutilahu. Terima kasih, sekarang rumah saya sudah layak huni dan tidak bocor saat hujan,” ucapnya pelan dengan mata berkaca.

Bukan Sekadar Janji

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa datang meninjau hasil program itu, ditemani Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi dan Wakil Bupati Trihandy Cahya Saputro.

Dalam kunjungan itu, Gubernur Khofifah memastikan bahwa bukan hanya dua rumah di Pace Kulon yang rampung, tapi 158 unit Rutilahu di Nganjuk telah selesai 100 persen.

“Ini adalah program Rutilahu, rumah yang tidak layak huni menjadi rumah tinggal layak huni. Di sini kerja sama antara Pemprov Jatim dengan Kodam V/Brawijaya,” ucap Gubernur Khofifah saat berbincang dengan warga hari ini.

Namun, ia menegaskan, program ini bukan hanya soal tembok dan atap yang baru. Ia bicara soal martabat hidup dan rasa aman bagi masyarakat kecil.

Rutilahu menyentuh sisi paling dasar dari kebutuhan manusia rumah yang sehat, aman, dan punya sanitasi layak.

Rumah, bagi Gubernur Khofifah, bukan hanya bangunan fisik, tapi fondasi kehidupan sosial yang berkeadilan. 

Gubernur Khofifah tahu benar, dari rumah yang rapuh sering lahir generasi yang tertekan, dan dari rumah yang kokoh lahir harapan.

“Terima kasih atas kolaborasi dari semua pihak, utamanya Kodam V/Brawijaya dan Pemkab Nganjuk. Semoga ikhtiar bersama ini bisa memenuhi kebutuhan hunian yang layak, sehat, dan berkeadilan bagi masyarakat,” ucap mantan Mensos RI itu senyum tulus.

Dari Program Jadi Kehidupan

Di tengah era serba digital dan ambisi pembangunan kota, program seperti Rutilahu adalah pengingat bahwa pembangunan sejati dimulai dari ruang paling kecil rumah warga.

Bagi Mujiati, seorang ibu rumah tangga yang dulu tinggal di rumah berdinding anyaman bambu, perubahan itu terasa seperti mimpi.

“Sebelum dibenahi, dinding rumah saya hampir roboh dan lantainya masih tanah. Sekarang rumah saya sudah layak huni, alhamdulillah bersyukur sekali karena kalau disuruh bangun rumah sendiri, saya tidak mampu,” ucapnya.

Pernyataan sederhana, tapi menyentuh akar dari persoalan sosial di banyak daerah, kemiskinan bukan hanya soal angka, tapi tentang kesempatan untuk hidup layak.

Program kolaboratif Pemprov Jawa Timur dan Kodam V/Brawijaya menargetkan 1.900 unit rumah di 12 kabupaten/kota.

Melalui koordinasi langsung antara Pangdam dan para Dandim, dilakukan pendataan rumah-rumah yang paling membutuhkan bantuan.

“Saya sampaikan kepada Pak Bupati, kalau masih ada yang diajukan, tahun depan program ini tetap ada. Selanjutnya bisa disisir di tempat lain,” ujar Gubernur Khofifah memastikan keberlanjutan.

Dengan demikian, Rutilahu bukan proyek instan yang berhenti setelah peresmian.

Ia dirancang sebagai gerakan sosial berkelanjutan yang menyentuh masyarakat paling bawah bukan sekadar angka di laporan pemerintah.

Rumah Sebagai Simbol Martabat

Di balik tembok rumah-rumah yang kini berdiri kokoh itu, tersimpan simbol lebih dalam pengakuan akan martabat manusia kecil selama ini terabaikan.

Bagi warga seperti Suyitno dan Mujiati, rumah bukan lagi sekadar tempat berteduh, tapi penanda bahwa mereka diakui sebagai bagian dari negara hadir untuk rakyatnya.

Rutilahu bukan proyek megah dengan peresmian meriah, tapi langkah kecil yang berdampak besar menyentuh jiwa rakyat.

Di sinilah makna sejati pembangunan ketika negara hadir dalam bentuk atap tak bocor, lantai tak lagi becek, dan dinding tak lagi nyaris roboh.

Kebijakan seperti ini mungkin tak viral di media sosial, tapi di mata mereka yang menerimanya, ia lebih berharga dari sekadar headline politik.

Rumah baru itu adalah bentuk keadilan sosial yang nyata bukan dalam teori, tapi dalam kehidupan sehari-hari.

Menanam Harapan di Tanah Nganjuk

Kini, di halaman kecil depan rumahnya, Mujiati juga mulai menanam bunga kertas berwarna merah muda.

Suyitno, dengan sisa papan kayu renovasi, membuat rak sederhana untuk jualan kuenya. Hal-hal kecil itu menandakan sesuatu yang besar rasa percaya diri baru.

Rumah-rumah Rutilahu di Nganjuk adalah saksi bahwa perubahan besar bisa dimulai dari satu pintu kecil. 

Dari satu dinding yang tegak, satu lantai yang kering, dan satu atap melindungi keluarga juga orang terkasih di sampingnya.

Rasa syukur warga menjadi semacam doa tak terucap, bahwa negara masih punya ruang hati untuk rakyat kecil.

Di setiap senyum itu, ada juga soal pesan sunyi untuk semua pejabat negeri ini pembangunan sejati dimulai. 

Dari keberanian mendengar suara paling lirih, suara mereka hanya ingin punya rumah layak untuk pulang.

Formulir Kontak