Kalimantannews.id, Pulau Kalimantan - Mahal saja tidak cukup. Kisah pilu pengguna setia Apple selalu sama janji manis inovasi, ujungnya aksesori tambahan yang menguras dompet lagi.
Inilah ironi pahit dari iPhone 17 Pro, gawai ‘premium’ ternyata merangkak mencapai ambisi fotografi telefoto. Saatnya menyorot kemalasan Apple.
Sebuah gawai seharga puluhan juta, konon flagship tanpa kompromi, terbukti pincang di urusan zoom jarak jauh, tak setangguh klaim marketing gemerlap.
Lensa Adalah Sandiwara
Ketika pesaing seperti Vivo X300 Pro atau Oppo Find X9 Pro melangkah gagah menawarkan lensa telefoto opsional internal terintegrasi rapi, Apple justru tersandung malu.
Mereka menyuguhkan modul kamera periskop 48 megapiksel yang sejatinya hanya bertele-tele pada panjang fokus 100mm, zoom optik 4x. Inovasi mandek bersembunyi di balik nama ‘Pro’.
Lalu, datanglah Sandmarc, bak pahlawan kesiangan dari pihak ketiga, menawarkan lensa Tetraprisma sebagai penambal lubang kelemahan fundamental iPhone 17 Pro (Max) tersebut.
Inilah gimmick nyata dari kemewahan semu. Pengguna hardcore iPhone kini dipaksa menjinjing beban ekstra, lensa seberat 143 gram sepanjang 5,7 cm, demi mencapai impian zoom 200mm yang diklaim setara kualitas optik 8x.
Ini bukan lagi integrasi, melainkan alergi teknologi. Lensa ini, yang mencolok dan memerlukan penutup pelindung khusus atau klip universal agar terpasang mantap, seolah menampar wajah desain minimalis iPhone.
Keindahan estetika harus diperkosa demi fungsi yang seharusnya sudah built-in dari pabrik biasa-biasa saja.
Biaya ‘penyempurnaan’ ini pun bukan main-main. Lensa Tetraprisma Sandmarc dibanderol mencengangkan $269,99, ditambah biaya kirim $19,95 yang terasa memperpanjang penderitaan dompet.
Pengguna Apple, sang korban setia, sekali lagi dipaksa merogoh kocek lebih dalam.
Ini bukan sekadar aksesori, ini adalah pengakuan diam-diam bahwa Apple belum mampu menghadirkan fitur zoom premium secara mandiri, memanfaatkan ketergantungan fanatik penggunanya.
Lensa ini juga berlaku untuk iPhone 16 Pro Max dan 15 Pro Max, mengejek resolusi 12 megapiksel lama agar ‘pantas’ memiliki zoom optik 10x setara 240mm, sekali lagi, solusi tambal sulam yang membuat kita menggeleng kepala tak percaya.
Ironi Keterbatasan Fungsional
Kemampuan zoom in-sensor Apple, yang heroik mencapai zoom 16x pada resolusi 24MP, menjadi lelucon ketika harus berpadu dengan lensa eksternal Sandmarc merepotkan ini.
Bayangkan momen penting yang harus terlewatkan hanya karena proses pasang-copot lensa yang memakan waktu dan menyiksa kantong saku.
Keunggulan Sandmarc untuk kompatibilitas filter ND 43 mm, polarisasi, atau efek memang patut diacungi jempol.
Pengguna model dasar iPhone tanpa kamera telefoto pun hanya bisa pasrah dengan lensa 58 mm, mengubah kamera utama menjadi telefoto 4x yang tidak sebanding dengan janji zoom premium.
Ironi terbesar terletak pada janji kemudahan yang ditawarkan Apple, tetapi dirusak oleh kebutuhan kompleksitas Sandmarc.
Kita membeli smartphone mahal untuk simplicity, bukan keribetan membawa segudang gadget tambahan bak fotografer profesional era 2000-an.
Apple, sudah saatnya bercermin dan berhenti menjual solusi pihak ketiga sebagai inovasi inti. Sebab, itu merugikan pengguna.
