
Bukan hanya sebagai kota perdagangan yang lahir dari silang budaya dan sungai yang membelahnya, tapi kini, sebagai kota yang lapar akan peluang.
Peluang yang datang bukan dari proyek raksasa, melainkan dari gerai-gerai makanan, kafe kekinian, dan hotel berjaringan internasional yang mulai menjamur di sudut-sudut kota.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, tak ragu mengatakan satu kalimat yang penuh makna "Kami terbuka."
Bukan sekadar slogan. Ini adalah sinyal kuat dari sebuah kota yang ingin bangkit, bukan dengan cara yang dramatis, tapi dengan langkah-langkah nyata membuka pintu lebar bagi investasi waralaba.
Mesin Ekonomi Anyar
Di permukaan, kehadiran restoran cepat saji atau jaringan kopi internasional mungkin terlihat seperti soal selera.
Anak muda datang, memesan kopi, selfie, lalu pergi. Tapi di balik layar, ada mesin ekonomi yang mulai bergerak.
Edi Rusdi Kamtono tahu betul itu. Ia tak melihat waralaba sebagai tren kuliner, tapi sebagai strategi pembangunan.
“Pontianak ini kota perdagangan dan jasa,” ucapanya tegas. “Kami terbuka untuk investasi, terutama di sektor restoran, kafe, maupun hotel yang sangat relevan dan strategis bagi kita.”
Pernyataan ini bukan basa-basi. Ini adalah respons terhadap kenyataan keterbatasan lahan di kota yang terus berkembang membuat sektor manufaktur dan industri berat sulit tumbuh.
Maka, jalan yang tersisa adalah jasa. Dan di sini, waralaba menjadi entry point yang sempurna.
Lapangan Kerja Lokal
Angka 8,29 persen tingkat pengangguran terbuka di Kota Pontianak Kalimantan Barat masih menjadi beban. Tapi angka itu bukan alasan untuk menyerah. Justru, menjadi pemicu.
Investasi waralaba, kata Wali Kota Edi, bukan soal uang asing masuk lalu pergi. Ini soal penyerapan tenaga kerja lokal.
Setiap gerai baru, setiap hotel yang dibuka, butuh puluhan hingga ratusan tenaga kerja dari barista, kasir, hingga manajer operasional.
“Kita harus bangun SDM yang cerdas dan terampil,” ujarnya. “Agar mampu bekerja di mana pun.”
Ini bukan retorika. Ini adalah pergeseran paradigma dari mengharapkan pekerjaan menjadi menciptakan peluang kerja.
Waralaba, dengan sistem pelatihan yang terstandarisasi, menjadi akademi kerja praktis bagi anak-anak muda Pontianak.
Bayangkan seorang lulusan SMK yang sebelumnya hanya punya pilihan bekerja di toko kelontong atau menjadi ojek online.
Kini bisa menjadi shift leader di gerai F&B internasional. Dengan gaji lebih baik, jenjang karier jelas, dan pelatihan profesional.
Itu bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah mobilitas sosial benar-benar menopang roda perputaran perekomian.
Daya Tarik Investasi
Tapi investasi tak akan datang jika hanya diundang dengan kata-kata. Ia butuh jaminan. Dan di sinilah peran pemerintah kota menjadi krusial.
Edi Rusdi Kamtono sadar: infrastruktur dan regulasi adalah dua pilar utama. Maka, langkah strategis mulai digulirkan.
Salah satunya, penguatan Mal Pelayanan Publik (MPP) yang akan segera dilengkapi dengan Klinik Investasi.
Bayangkan ini seorang pengusaha dari Jakarta atau Singapura ingin membuka gerai di Pontianak.
Dulu, ia harus bolak-balik ke dinas, mengurus puluhan dokumen, menghadapi birokrasi yang berbelit. Kini, semua bisa dilakukan dalam satu atap. Cepat, transparan, dan terintegrasi.
“Investasi harus disupport dengan cara kita membangun kualitas infrastruktur yang baik dan regulasi yang ramah,” Wali Kota Edi menegaskan.
Ini bukan sekadar kemudahan, tapi kepastian. Dan bagi investor, kepastian adalah mata uang paling berharga.
Uang Terus Berputar
Namun, yang paling menarik bukan hanya soal lapangan kerja atau kemudahan perizinan. Tapi soal aliran uang atau dalam istilah ekonomi cash flow.
Ekonom Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak, Muhammad Fahmi, menjelaskan dengan gamblang.
“Investasi merupakan salah satu pemicu utama pertumbuhan ekonomi. Dampaknya bersifat multiplier effect,” ucap Muhammad Fahmi.
Apa artinya itu? Uang yang masuk tidak berhenti di satu tempat. Ia terus bergerak.
Contoh konkret sebuah waralaba F&B membuka gerai di Kota Pontianak. Mereka bayar sewa tempat → uang masuk ke pemilik gedung → si pemilik bayar pajak → pemerintah dapat pemasukan → pemerintah bangun trotoar atau taman → pedagang kaki lima di sekitar gerai itu jadi ramai → omzet naik → mereka bisa bayar karyawan lebih baik → karyawan belanja di pasar tradisional → roda ekonomi terus berputar.
Belum lagi soal rantai pasok. Waralaba besar butuh bahan baku sayur, daging, susu, kopi lokal.
Jika bisa melibatkan petani atau UMKM setempat, maka uang tidak keluar dari kota. Ia tetap berputar, memberi napas bagi ekonomi mikro.
“Inilah yang kita sebut ekosistem ekonomi yang sehat,” kata Muhammad Fahmi. “Inklusif, dan berkelanjutan.”
Pontianak, Kota Kuliner Jadi Magnet Bisnis
Tapi mengapa waralaba memilih Kota Pontianak? Mengapa tidak Kota Samarinda, Kota Banjarmasin, atau Kota Palangkaraya?
Jawabannya sederhana, kuliner.
Pontianak bukan sekadar kota di pertemuan sungai Kapuas dan Landak. Ia adalah kota rasa. Dari laksa Pontianak, mie celor, hingga kopi pancong khas kota ini punya DNA kuliner yang kuat.
Dan dalam dunia bisnis, DNA kuliner adalah daya tarik konsumen.
“Pontianak sebagai kota kuliner dan perdagangan sangat potensial menjadi magnet investasi di Kalimantan Barat,” Muhammad Fahmi menguraikan.
Waralaba internasional bukan datang ke kota yang “kosong”. Mereka datang ke kota yang sudah punya budaya makan dan minum yang kuat. Di sinilah letak keunggulan kompetitif Pontianak.
Mereka tidak menggantikan budaya lokal. Mereka melengkapinya.
Seorang warga bisa makan laksa di pagi hari, lalu memesan burger di sore hari. Tidak saling menghancurkan, tapi saling melengkapi. Dan dalam ekosistem bisnis, itu adalah pasar yang sehat.
Mitra Rantai Pasok
Ada kekhawatiran, apakah waralaba akan membunuh UMKM lokal? Jawabannya tidak, jika dikelola dengan bijak.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyadari paham betul risiko itu. Tapi ia melihat peluang lebih besar kolaborasi.
Bayangkan sebuah hotel internasional butuh seragam, perlengkapan kamar, atau makanan tradisional untuk tamu asing.
Jika UMKM lokal bisa memenuhi standar kualitas, maka mereka bisa menjadi supplier.
Atau, waralaba F&B butuh sayur segar setiap hari. Jika petani di sekitar Pontianak bisa menyuplai dengan konsisten, maka mereka bukan pesaing tapi mitra strategis.
Ini adalah win-win solution. UMKM dapat pasar besar, waralaba dapat pasokan lokal yang murah dan cepat, dan uang tetap berputar di kota.
Untuk itu, pemerintah kota juga perlu memfasilitasi pelatihan, sertifikasi, dan jaringan distribusi agar UMKM siap bersaing—bukan hanya bertahan, tapi tumbuh bersama.
Ekosistem Ekonomi Inklusif
Yang sedang dibangun di Pontianak bukan sekadar kota dengan banyak gerai. Tapi kota dengan ekosistem ekonomi yang hidup.
Di mana investasi besar dan UMKM bisa tumbuh berdampingan. Di mana tenaga kerja lokal bukan hanya dipekerjakan, tapi dikembangkan.
Di mana pemerintah bukan hanya regulator, tapi fasilitator dan penggerak.
Langkah-langkah seperti Klinik Investasi, perbaikan infrastruktur, dan penguatan SDM bukan proyek jangka pendek.
Ini adalah investasi dalam jangka panjang terhadap masa depan kota. Ketika anak muda Kota Pontianak bisa bekerja di perusahaan internasional tanpa harus merantau ke Jakarta.
Ini ketika petani lokal bisa menyuplai bahan baku ke hotel berbintang, maka saat itulah kita bisa bilang: Pontianak benar-benar bangkit.
Bukan karena gedung tinggi atau jalan lebar. Tapi karena roda ekonomi berputar, merata, dan berkelanjutan.
Pontianak Sedang Menulis Ulang Cerita Ekonominya
Pontianak hari ini bukan lagi kota yang hanya dikenal karena letak geografisnya di khatulistiwa. Ia sedang menulis babak baru: sebagai kota yang terbuka, siap, dan lapar akan peluang.
Waralaba bukan musuh. Dengan dukungan pemerintah, kekuatan SDM lokal, serta sinergi dengan UMKM, investasi ini bisa menjadi pemicu pertumbuhan yang inklusif.
Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi wacana. Tapi aksi nyata memastikan pelatihan tersedia, regulasi tetap ringkas, dan kolaborasi terus diperkuat.
Karena di balik setiap gerai yang dibuka, ada mimpi yang mulai terwujud. Mimpi anak muda yang ingin berkarya di kampung sendiri.
Mimpi petani yang ingin hasil buminya dihargai. Mimpi kota yang ingin bangkit, tanpa harus kehilangan jati dirinya.
Kota Pontianak Kalimantan Barat sedang bernafas. Dan nafas itu semakin kuat. Berdaya abadi ekonomi mandiri.