Pegadaian Mengajar: Emas Bukan Cincin, Tapi Pintu Menuju Kemandirian Finansial Generasi Muda Pulau Kalimantan - Kalimantannews.id

Pegadaian Mengajar: Emas Bukan Cincin, Tapi Pintu Menuju Kemandirian Finansial Generasi Muda Pulau Kalimantan

Pegadaian Mengajar: Emas Bukan Cincin, Tapi Pintu Menuju Kemandirian Finansial Generasi Muda Pulau Kalimantan

Pegadaian Mengajar: Emas Bukan Cincin, Tapi Pintu Menuju Kemandirian Finansial Generasi Muda Pulau Kalimantan
Kalimantannews.id, Pontianak - Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang memburu instan, ada satu suara yang tetap perlahan tapi pasti suara literasi keuangan.

Bukan dari kampus bergengsi, bukan dari bank besar di pusat kota, melainkan dari sebuah lembaga yang dulu dikenal sebagai tempat gadai PT Pegadaian. 

Namun kini, di bawah terang inovasi dan visi inklusi, Pegadaian tak lagi hanya soal pinjam uang. 

Ia hadir sebagai guru. Sebagai mentor. Sebagai penjaga gerbang menuju kemandirian ekonomi generasi muda.

Di Kota Pontianak Kalimantan Barat, tepatnya di bawah naungan Kanwil IV Balikpapan, geliat itu terasa nyata. 

Bulan Agustus 2025 menjadi saksi bisu transformasi Pegadaian bukan lagi lembaga yang hanya dilihat saat kepepet, tapi mulai dipandang sebagai mitra strategis dalam membangun kesadaran finansial. 

Melalui program “Pegadaian Mengajar”, tiga cabang utama Syariah Ahmad Yani, Siantan, dan Pontianak  membawa misi ke sekolah, kampus, dan ruang kelas milenial.

Ini bukan sekadar kampanye. Ini adalah investasi sosial jangka panjang.

Strategi Mikro Menjangkau Makro

Bayangkan seorang siswa SMK jurusan teknik di Sungai Raya, yang sehari-hari lebih akrab dengan baut dan mesin, tiba-tiba duduk mendengarkan tentang Tabungan Emas Syariah. 

Bukan pelajaran agama, bukan pelajaran akuntansi kering. Tapi tentang bagaimana emas bisa menjadi aset, bukan sekadar perhiasan.

Di SMK Panca Bhakti, tim dari Cabang Syariah Ahmad Yani membuka wawasan baru. Mereka tak bicara dengan jargon teknis. 

Mereka bicara dengan bahasa kehidupan: “Kalau kamu menabung emas 0,01 gram per minggu, dalam 5 tahun kamu punya satu batang. Itu bisa jadi modal buka bengkel.”

Itu adalah logika bisnis sederhana, yang langsung nyambung ke realitas siswa kejuruan. Maka, di situlah letak kecerdasan pendekatan Pegadaian: mengaitkan produk dengan mimpi.

Sementara itu, di Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak, levelnya naik. Mahasiswa dari berbagai fakultas ekonomi, pertanian, hingga teknik diajak berpikir lebih jauh. 

Diskusi bukan lagi soal menabung, tapi soal strategi keuangan jangka panjang. Di tengah gejolak inflasi dan ketidakpastian ekonomi, emas kembali diangkat sebagai safe haven. 

Tapi kali ini, tidak perlu beli batangan. Cukup lewat aplikasi. Cukup dari uang jajan.

“Bayangkan,” kata salah satu narasumber dari Cabang Siantan, “kamu beli emas Rp10.000 per hari. Dalam sebulan, itu Rp300 ribu. Dalam setahun, kamu punya aset nyata yang nilainya naik, bukan turun seperti uang di dompet digital yang cepat habis.”

Itu bukan motivasi, itu matematika kehidupan. Dan Pegadaian menghadirkannya dengan cara yang kekinian, relevan, dan mudah diakses.

Lalu di Politeknik Negeri Pontianak, fokusnya lebih pragmatis kehidupan setelah lulus. 

Bagaimana mengelola penghasilan pertama? Bagaimana membuat dana darurat? Apa yang harus dilakukan saat gaji pertama datang, tapi langsung habis untuk gawai baru atau liburan?

Di sinilah simulasi produk Pegadaian menjadi kunci. Peserta diajak mencoba skenario, “Kamu dapat gaji Rp5 juta. 

Berapa yang harus ditabung? Berapa untuk investasi? Berapa untuk kebutuhan? Dan bagaimana kalau kamu butuh dana cepat tanpa utang rentenir?”

Jawabannya? Pegadaian Digital. Gadai emas online. Tabungan emas. Pinjaman syariah tanpa bunga. Ini bukan iklan. Ini pelatihan hidup.

Bukan Sekadar Program

Apa yang membuat “Pegadaian Mengajar” berbeda dari program edukasi keuangan lainnya? Kontekstualitas.

Pegadaian tidak membawa satu paket materi untuk semua. Di SMK, fokus pada kemandirian ekonomi dasar. 

Di kampus, fokus pada perencanaan jangka panjang dan literasi digital. Di politeknik, fokus pada transisi dari mahasiswa ke pekerja.

Ini adalah strategi segmentasi ala korporasi besar, tapi dijalankan dengan hati. Dan di sinilah letak kejeniusan Deputi Bisnis PT Pegadaian Area Pontianak, Abdul Lafaz Isnainy.

“Pegadaian Mengajar bukan sekadar program edukasi, melainkan bentuk kepedulian kami terhadap masa depan finansial generasi muda,” kata Abdul Lafaz Isnainy, dengan suara yang tenang tapi penuh keyakinan.

Pernyataan itu bukan sekadar soundbite. Itu adalah manifestasi visi bisnis modern profit with purpose.

Pegadaian tahu betul itu, bahwa di era digital, kepercayaan adalah mata uang terkuat. Dan cara terbaik membangun kepercayaan? Memberi nilai sebelum meminta loyalitas.

Dengan mendidik, Pegadaian tidak hanya menciptakan calon nasabah. Ia menciptakan komunitas yang melek finansial. 

Itu yang kelak akan memilih layanan keuangan dengan bijak dan jika mereka memilih Pegadaian, itu karena kesadaran, bukan keterpaksaan.

Inklusi Keuangan Bukan Slogan

Fakta pahit di Indonesia: hampir 60 persen populasi masih belum terjangkau layanan keuangan formal. 

Di daerah seperti Kalimantan Barat, angka ini bahkan lebih tinggi. Banyak masyarakat yang masih bergantung pada rentenir, arisan, atau simpanan fisik di bawah kasur.

Pegadaian hadir sebagai jembatan. Bukan sebagai penakluk, tapi sebagai fasilitator inklusi.

Program “Pegadaian Mengajar” adalah bentuk aksi mikro yang berdampak makro. Satu kelas, satu kampus, satu kota tapi dengan potensi berantai. 

Seorang mahasiswa yang belajar tentang tabungan emas, bisa saja menjadi guru yang mengajarkan hal yang sama ke adiknya. 

Atau seorang lulusan politeknik yang mulai menabung emas, bisa menjadi teladan bagi tetangganya. Ini adalah efek domino literasi.

Dan yang paling penting, Pegadaian tidak memaksa. Mereka hanya membuka pintu. Mereka menunjukkan peta. Selebihnya, terserah individu untuk memilih jalan.

Namun, dengan menyediakan produk yang mudah, digital, dan ramah milenial, peluang mereka untuk dipilih jadi jauh lebih besar.

Digitalisasi Jantung Strategi

Jika dulu orang menganggap Pegadaian identik dengan antrian panjang dan formulir kertas, kini citra itu perlahan luntur.

Di setiap sesi “Pegadaian Mengajar”, fitur digital menjadi bintang utama. 

Aplikasi Pegadaian, pembayaran non tunai, gadai online, pembelian emas digital semua ditampilkan dengan antarmuka yang simpel, cepat, dan aman.

“Kami ingin masyarakat tahu, bahwa Pegadaian sudah bertransformasi,” ujar Abdul Lafaz Isnainy. “Kami bukan lembaga kuno. Kami adalah lembaga keuangan yang terus berinovasi.”

Dan inovasi itu bukan sekadar teknologi. Itu adalah perubahan mindset.

Dari lembaga yang reaktif (menunggu orang datang saat butuh uang), menjadi lembaga yang proaktif (mendatangi orang untuk memberi edukasi).

Dari lembaga yang dikenal karena gadai, menjadi lembaga yang dikenal karena memberdayakan.

Indikator Sukses Tak Tertulis

Di akhir setiap sesi, ada satu hal yang selalu muncul tangan yang terangkat.

Pertanyaan mengalir. “Kalau saya beli emas digital, aman nggak?” “Bisa dicicil nggak?” “Kalau saya butuh uang cepat, prosesnya lama nggak?”

“Apa bedanya dengan bank?” Pertanyaan-pertanyaan itu adalah tanda kepercayaan. Artinya, peserta tidak hanya mendengar. 

Mereka terlibat. Mereka mulai berpikir kritis. Dan bagi Pegadaian, itu adalah kemenangan terbesar.

Karena edukasi bukan diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan, tapi dari seberapa dalam pemahaman yang tertanam.

Literasi Jadi Warisan

“Pegadaian Mengajar” di Pontianak bukan sekadar program satu bulan. Ia adalah benih.

Benih yang ditanam di tanah subur pikiran anak muda yang masih terbuka, yang belum terlalu terbelenggu oleh kebiasaan buruk keuangan, yang masih percaya bahwa masa depan bisa dibangun dari hal-hal kecil.

Dan Pegadaian memilih untuk menjadi petani benih itu.

Dengan pendekatan yang lugas, humanis, dan berbasis data, mereka membuktikan bahwa lembaga keuangan bisa hadir dengan hati. 

Bahwa bisnis tidak harus selalu soal profit, tapi bisa juga soal dampak.

Di tengah persaingan ketat dengan fintech dan bank digital, Pegadaian justru memilih jalan yang berbeda mendidik dulu, baru berharap dilayani.

Dan itulah yang membuatnya tak tergantikan.


Formulir Kontak